Senin, 09 Januari 2012

Tips Menulis ala Oryza Sativa

Beberapa bulan lalu saya mengikuti workshop penulisan yang diadakan oleh sebuah komunitas di Jogja yang semua pesertanya perempuan. Dalam workshop yang berlangsung selama tiga hari itu kami disuguhi materi-materi menarik tentang tema workshop yang sangat membuka mata kami. Dan salah satu materi yang sangat menggugah disampaikan oleh salah satu esais terbaik Indonesia, Mohammad Sobary atau Kang Sob sebagaimana ia dikenal. Malam itu, ia menyampaikan materinya tentang cara menulis. Tapi, di luar dugaan kami semua, slide-slide Power Pointnya tidak berisi tentang petunjuk teknis untuk penulisan esai yang baik dan benar.

Ia tidak menyarankan kami untuk rajin-rajin membaca kamus atau buku-buku petunjuk mengenai tata bahasa Indonesia. Poin-poin materinya justru mengajari kami untuk menjadi lebih kontemplatif dalam proses menulis. Urusan teknis benar-benar tidak menjadi prioritas dalam saran-sarannya, selama sebuah tulisan memiliki alur logika yang baik dan bisa tersampaikan dengan jelas pada pembaca. Tapi tentu saja, untuk mencapai kedua hal tersebut, seorang penulis membutuhkan pengendapan yang cukup matang. Agar tulisannya tidak terlalu melangit dan tidak sulit ditangkap maksudnya.Dan, proses pengendapan inilah yang menjadi fokus dalam materi yang disampaikannya di malam kedua workshop.

Saya pribadi, menyepakati pentingnya fase pengendapan dalam menulis. Dulu, saya adalah penulis yang terburu-buru menuangkan ide. Memang, banyak diantara hasilnya yang saya sukai. Tapi lama-kelamaan, saya kehilangan energi spontanitas dan menuruti saran sahabat, saya mulai belajar mengendapkan.

Konsekuensinya memang, jumlah tulisan saya menyusut dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tapi, ada pelajaran lain yang bagi saya lebih berharga dibanding kuantitas. Pengendapan memang sulit; ia menuntut kesabaran. Tapi dengan mengendapkan sejenak ide-ide, ternyata saya punya lebih banyak waktu untuk membuat prioritas pada apa yang ingin saya lahirkan. Proses semacam ini juga, tentu saja, melatih saya untuk lebih menahan diri, tidak hanya dalam tulisan tetapi juga dalam sisi-sisi kehidupan yang lain. Proses ini mengajarkan pada saya untuk mengambil jarak dan menganalisa kembali apa yang saya pikirkan. Dengan begitu, saya memiliki kesempatan untuk melihat sesuatu lebih jernih dan menatanya dalam struktur yang lebih rapi.

Satu sisi, pengendapan memang terdengar seperti penundaan. Tapi jika dipikir-pikir lagi, pengendapan bukan sebuah alasan penundaan. Ia adalah proses yang memang sebaiknya dilalui. Dan setiap orang, setiap penulis, atau kebanyakan orang yang bekerja di dunia kreatif, memiliki caranya masing-masing untuk melalui fase ini. Dalam workshop, Kang Sob memberikan beberapa saran cara yang bisa dilakukan selama fase pengendapan. Meditasi, salah satunya.

Meditasi, bagi banyak orang memiliki pengaruh yang luar biasa pada cara mereka memandang hidup, bersikap, dan bekerja. Saya melihatnya pada orang-orang gemar meditasi yang saya temui sepanjang perjalanan hidup. Hampir semua dari mereka adalah orang-orang yang memandang hidup dengan cara yang sangat baik dan tulus, sehingga saya tidak heran, ketika mereka menjadi orang-orang yang bahagia. Dalam bekerja pun mereka memiliki ketahanan energi yang baik. Mereka tahu bagaimana cara mengukur diri dan dalam fase pengendapan di dunia kreatif, hal ini sangat dibutuhkan agar tidak kebablasan dan malahan tidak jadi berkarya.

Meditasi, sejauh pengetahuan saya, menjadi sebuah latihan perenungan yang luar biasa. Kita dilatih untuk mengenal diri sendiri. Dan ketika kita sudah mengenal diri sendiri, maka kita akan tahu kapan kita harus berjalan dan kapan harus berhenti.
Kendala awal yang umumnya terjadi pada seseorang yang ingin menulis adalah ia kesulitan untuk menuangkan idenya. Bahkan untuk satu kalimat pertama saja. Tentu saja, ini situasi yang menjengkelkan—saya pun sering mengalaminya. Tapi tidak semestinya kejengkelan ini membuat seseorang berhenti menulis karena frustasi karena sebenarnya, ada jalan untuk mengatasinya.

Pertama-tama, tinggalkan dulu tulisan itu. Tutup buku atau matikan monitor komputer. Lalu lupakan, seolah-olah kita tidak pernah berurusan dengan ide itu. Setelahnya, keluarlah dari ruangan. Sapalah para tetangga dan luangkan waktu barang sebentar untuk berbincang dengan mereka. Atau jika tinggal di wilayah pedesaan, ambilah waktu untuk mendekatkan diri pada alam. Bagi mereka yang gemar beribadah, cobalah untuk beribadah di rumah ibadah yang belum pernah disinggahi. Intinya, temukan suatu bentuk kegiatan di luar rutinitas. Percaya atau tidak, hal-hal kecil semacam ini bisa sangat membantu menyegarkan benak. Setelah cukup segar dan merasa siap, silakan kembali memikirkan ide-ide yang sebelumnya terasa buntu. Jikapun masih buntu, jangan menyerah untuk tidak menulis. Lakukan apa yang disenangi selama tidak mengganggu orang lain, sampai mood yang dicari benar-benar terbangun dan mendapatkan momen yang tepat untuk menulis. Biasanya, hasilnya akan sangat tidak terduga.

Memang, salah satu nilai dari tulisan yang baik adalah tata bahasanya. Tetapi, jika tidak diimbangi dengan sentuhan emosional, maka tulisan itu akan terasa hambar dan tidak bisa menginspirasi. Disinilah pengendapan memainkan perannya. Dengan pengendapan yang tepat, seseorang jadi belajar untuk menakar emosinya. Lambat laun, ia pun akan bisa mengetahui rentang waktu yang ia butuhkan dalam sekali pengendapan. Ia juga akan mengetahui, ritual personal semacam apa yang ia butuhkan dalam proses kreatifnya; cara yang bagaimana yang paling nyaman baginya; dan ia pun dapat berkarya dengan kesadaran utuh serta tepat sasaran.

Membangun emosi yang stabil dalam tulisan bukan hal mudah pada awalnya. Tapi percayalah, jika terus dilatih dan diolah, maka kita akan terbiasa. Kata-kata, jika diramu dengan baik, bisa menjadi sihir yang sangat mujarab bagi banyak orang. Ia bisa melekat dalam benak seseorang selama bertahun-tahun, menjadi sepotong kalimat yang menjadi kutipan yang mewakili hidup seseorang, menjadi lirik lagu yang digemari separuh penduduk dunia, menjadi puisi yang tetap menginspirasi setelah lima abad, menjadi provokator—bayangkan! Begitu banyak pengaruh yang bisa diberikan oleh rangkaian huruf.

Apa yang saya sampaikan dalam tulisan ini hanyalah sekelumit kisah yang mungkin tidak berarti bagi kebanyakan orang. Saya tidak bisa memberikan lebih banyak dari sekadar tulisan yang terus terang, telah saya endapkan selama dua minggu terakhir dan baru bisa lahir subuh ini. Dan, saya juga menyadari bahwa setiap orang, setiap penulis, memiliki caranya masing-masing dalam berkarya. Proses kreatif adalah sesuatu yang sangat personal, ini tidak mungkin lagi dipungkiri. Melalui tulisan ini, saya berniat berbagi pengalaman dengan siapapun yang membaca tulisan ini. Saya sendiri masih terus dan terus belajar untuk mengolah ide-ide agar tertuang menjadi karya yang bisa berguna bagi orang lain. Tidak melulu demi batin yang butuh pelepasan. Menulis memang jalan yang sunyi. Tapi kesunyian itu, adalah sebuah jalan menuju pencerahan.

Selamat berkarya!

*Oryza Sativa alias Abmi Handayani alias Samaya Tara alias-alias yang lainnya adalah seorang Penulis lepas yang pernah memiliki keterkaitan personal dengan dunia LGBT. Demikian, kemanapun ia melangkah pada akhirnya, pengalaman tersebut adalah bagian dari sejarah dirinya. Meski tidak lagi terlibat secara langsung dalam dunia LGBT, ia masih mengamatinya kadang-kadang dan mencoba berkontribusi pada masa lalunya dengan cara, menulis.


11 comments:

  1. Inspiratif.
    Kuharap lebih banyak lagi postingan semacam ini yang dimuat disini.

    Happy New Year.
    Kay

    BalasHapus
  2. ~Kaaaaaaaaaaaaaay...harapan kami juga demikian, Kaaay... mari kita sama2 berharap yaaa???? hehehehhe thanks dah sudi mampir n salam kenal... Happy New Year too :)))

    BalasHapus
  3. neth g suka nulis sukana baca ja. kalo wat skripsi prlu pengendapan g y???? g nyambung blaaaaas xixixixi

    BalasHapus
  4. Perlu. Tp baca dulu materinya. Jangan dipaksa kalau buntu, malah gak bisa nulis. Skripsi memang lbh sulit buat dikerjain krn buat bnyk orang, it's a burden. But my profesor said, leave it for a while when you can't write a single word. Do something you like and refresh yourself. But Don't forget to make your draft and never forget to write down your ideas. Selamat mencoba :) O.S.

    BalasHapus
  5. I knew it!!! I had expected OS is Abmi. Character of her writings are not much different. I know OS one of the contributor on a lesbian website (first) sepocikopi. And for some reason now even appears here. What ever lah im still entertained and can enjoy her work. Keep writing Oryza Sativa or Abmi Handayani or somebody else :p
    For inyo and mba Nepen thanks already showing the last posts of my fav authors *cipok* ;)

    BalasHapus
  6. ~Deskaaaaaaaa... tebak tebak buah jambu, sapa dia penulis pujaanmuuuuu....hehehehe :))
    Deska baru komen cuman kalo ada artikelnya OS, kaaaaaaaaaaaan??? kaaaaaaaaaaaaan??? ckckck
    sepertinya inyo ga perlu membemberkan lebih jauh sapa nih si OS yaaa??? lebih baik dijawab sendiri ama ybs kalo beliau tdk lagi semedi....hihihihi :D

    BalasHapus
  7. Assalamualaikum! Lha kuwi wis ono jenengku je. Wahahaha. Arep tak potokopiken ktp po fiye jaaaal. Hahahaha. Hai mbak deska, thank you a load for your appreciation and for considering to read my works. Still, I am trying to be a better person and writer. May all human being blessed by the universe and creator. May every single creature finds its way to happiness, and enlightment. Wassalamualaikum, wr.wb. Om Mane Padme Hum.

    BalasHapus
  8. hmmm baiklah catet
    -pengendapan
    -tidak terburu2
    -refresh my mind

    cobiann ahh...

    BalasHapus
  9. ~Dreeeeeeeee.... catet n dicobain bukan dicobian lohhhhh yakkkk????? wkwkwkkwkwkwkwkwkkw

    BalasHapus
  10. wuiii,, tips yang keren sangat nih Nyo... berfikir untuk CoPas, dengan editan, bolehkah?? hihihi...
    ku save ya Nyo.. trims a lot for share..

    inyoooo,,, kangennnn....

    BalasHapus
  11. ~ IyHaaaaaaaa... yuhuuuuu... boleh atuh sisss... apa sih nyang ga buat dirimyuuuuu.... wkwkwkwkwkwkwk... iya inyo juga kangenn nih ngobs ama IyHaaaaaa.... *big hug n cipok* hehehehe :)))))))

    BalasHapus

hati hati keinjek pupuk kandang, ya...