
Terhitung dua tahun lebih sudah saya keluar dari hiruk pikuk dunia lesbian baik yang nyata maupun maya. Dua tahun lebih sudah saya mengatur jarak untuk melihat dunia ini dengan lebih jelas. Bukan untuk menghakiminya, tetapi saya ingin lebih memahaminya, sebagai proses yang pernah menjadi bagian dari hidup saya selama dua tahun. Bukan dua tahun yang berakhir indah, karena saya memutuskannya begitu. Karena indah, bagi saya, tidak mesti harus berakhir seperti kisah-kisah cinta yang indah. Tapi indah, adalah tentang memaknai kehidupan dengan ikhlas.
Kisah saya dengan mantan pacar saya yang perempuan bisa dikatakan sebagai fase yang sangat bergejolak. Banyak hal yang saya pelajari mengenai hubungan antar manusia di dalamnya. Baik lelaki maupun perempuan, pada akhirnya, siapapun, membutuhkan cinta kasih. Dan hal yang paling mendasar dalam setiap hubungan—kesampingkan dulu urusan jenis kelamin—adalah komunikasi. Bagaimana membangun komunikasi yang baik dan selalu menemukan cara untuk menyelamatkan hubungan yang krisis. Tapi, hal terakhir ini tak akan bisa jika tak disadari oleh kedua belah pihak yang sedang menjalin hubungan.
Perkara berikutnya yang kerap timbul ada pengkhianatan. Saya mengamati selama ini, tidak saja hubungan lesbian bahkan juga hetero terancam oleh pengkhianatan dari salah satu pihak atau malah dua-duanya. Dan hanya 1 dari 10, yang menurut saya sanggup memaafkan. Saya maklum, karena memaafkan perkara ini memang tak semudah membalik telapak tangan. Dan perkara ini jugalah yang menjadi akhir bagi periode lesbian saya.
Terlepas dari alasan apapun, saya pribadi cenderung tidak suka dikhianati, sementara saya berjuang mati-matian menjaga nyala kasih saya terhadap mantan pacar dan membangun harapan untuk hari depan yang lebih baik bagi kami berdua. Tapi ternyata, dengan meninggalkannya saya bisa memaafkannya dan seiring berjalan waktu, saya bisa menggali kembali kenangan-kenangan yang baik bersamanya.
Dua tahun menjadi lesbian, saya mengoleksi banyak sekali pertanyaan tentang hubungan ini dan kaitan-kaitannya dengan masyarakat. Tentu saja, hanya sedikit orang yang bisa maklum dan menerima tanpa menghakimi hubungan semacam ini. Awalnya saya punya harapan menggebu bahwa suatu hari nanti, entah di tahun berapa, masyarakat di Indonesia dapat menerima hubungan ini dengan lapang dada. Atas dasar kemanusiaan, dan tidak melulu menjadikan agama sebagai tolak ukur. Tetapi pada kenyataannya, cacat dalam kultur masyarakat ternyata sudah mengakar terlalu dalam. Saya bahkan pesimis, jika seluruh gerakan pelangi yang ada di Indonesia digabungkan, akan mampu mendobrak tatanan ini. Menjadi perempuan di negeri ini saja sudah sulit, terlebih menjadi lesbian.
Pada akhirnya, saya menyadari, bahwa menjadi lesbian atau tidak, tidaklah mengurangi tantangan hidup yang datang. Tapi selama jantung saya berdetak, ada suara dalam diri saya yang terus menerus menekankan untuk tidak pernah menyerah. Menjadi lesbian atau hetero atau biseksual, hanyalah sekelumit dari bentang kehidupan yang saya jalani. Orientasi seksual memang pilihan dan sudah sepatutnya tiap-tiap orang memiliki kesadaran akan konsekuensi setiap pilihan. Jika menjadi lesbian adalah dosa bagi masyarakat, maka hubungan hetero pun juga bisa berdosa jika ia tidak menikah. Karena untuk hubungan hetero sekalipun, masyarakat sangat tidak terima dengan konsep samen leven.
Mungkin, samen leven dan homoseksual itu dosa terhadap kultur timur karena mungkin, keduanya dianggap sebagai barang impor dari barat. Tapi satu hal yang membuat saya tertawa adalah, setelah bertahun-tahun membaca teks sejarah dan masih hingga saat ini, nyaris semua hal yang ada di negeri ini adalah impor dari luar negeri. Sulit untuk mencari apa yang benar-benar asli, karena Nusantara telah bersinggungan dengan dataran-dataran lain di muka bumi ini selama berabad-abad.
Meski ironis, inilah kenyataan yang dihadapi generasi saya sekarang. Generasi muda. Dan bagaimana generasi muda akan menyatakan diri mereka, ketika pluralitas yang menjadi nyawa negeri ini rupa-rupanya juga dipermasalahkan. Dengan alasan-alasan absurd, segala aspek ingin dipukul rata. Memenangkan yang mayoritas. Menyingkirkan yang minoritas. Kemanusiaan semakin hilang. Kebencian dan ketakutan merajalela ke tiap-tiap benak, merasuki hati tiap-tiap individu.
Maka kesimpulan yang saya tarik sejauh ini, adalah penting untuk membangun diri sebagai perempuan. Membangun diri menjadi pribadi yang tangguh untuk menghadapi zaman edan, seperti kata Ronggowarsito. Dan menjadi tangguh, bukan berarti kemudian seseorang berhak berkuasa atas yang lainnya. Menjadi tangguh dan berbudi luhur, ini yang saya maksud. Tangguh menghadapi persoalan-persoalan hidup yang mencambuk, ketika sebuah jalan telah dipilih. Menjadi tangguh untuk tetap positif memandang diri, orang lain, dan kehidupan.
Tantangannya adalah bagaimana kita membuat zaman yang terasa pahit ini menjadi manis. Tantangannya adalah bagaimana kita bisa tetap mengasihi satu sama lain sesama manusia, tanpa memandang jenis kelamin atau latar belakangnya. Di tengah-tengah dunia yang semakin dipenuhi kebencian, iri hati, dan politik binatang. Mungkin, dengan menjadi tangguh untuk menjaga nyala cinta kasih inilah roda dunia akan berputar menuju arah yang lebih baik. Zaman ini memang gila dan kalut, tapi dalam kenyataan inilah kita semua berada.
Selamat hari perempuan,
selamat merayakan Natal, dan Tahun Baru.
Semoga semua makhluk berbahagia.
Semoga semua makhluk terberkati.
selamat merayakan Natal, dan Tahun Baru.
Semoga semua makhluk berbahagia.
Semoga semua makhluk terberkati.
@Oryza Sativa, 25 Desember 2010
tulisan yg menginspirasi juga memberi semangat di hari senen yg kacau ini hehehe
BalasHapusterima kasih sudah berbagi :)
Salam kenal oryza
-Tweet
Keren....
BalasHapus@tweet: sama-sama.syukurlah jika tulisan ini berguna.hehe.
BalasHapus@floo shu: makasi mbak. hehe.
salam,
O.S
wow amazing....
BalasHapuskalo basa jermannya nepikeun nyeredet hate.
menginspirasi sekali.
-dree-
@dree: mbak, iku basa jerman kayak basa betawi emang ja? hehe. o.s
BalasHapusKarya Oryza mang sepenuh hati *kangen tulisan Oryza Sativa*
BalasHapus~Deskaaaaaa....ihhh kamu ya baru komen kalo ada artikelnya OS.... *cemboker saiya* hehehhehehehhe :))
BalasHapusya nanti aku nulis lg. golek inspirasi sik. hehehe. o.s
BalasHapusAiiii ga pantes lho inyo cemburu ha ha ha
BalasHapusAsiiik Oryza nulis lagi, ditunggu lho :*
Hmmm... jadi, OS udah bukan lesbian lagi nieh yaaa sekarang...? Nice Writing ^^
BalasHapus~Deskaaaaaaaaaaaaaaa.... oke deh kakaaaaaak deskaaaaaa... hehehehhehe :))
BalasHapus~Wiiiiiiiiiiiil... mari kita tunggu jawaban OS, yaaakkk???? wkwkkwkwkkwkwk
BalasHapus@mbak wil: sudah pensiun mbak. hehehe. o.s
BalasHapusKereeen tulisanya OS, slam kenal yah
BalasHapus~Oryza Sativa... pensiun dini ra? tapi udah dpt pesangon koq ya???? wkwkwkkwkwkwkwkkwkwkwkkwkwk *guling2 pukul tembok* jiahahahahahhahahaha
BalasHapus~Anonim... salam kenal kembali, tapi mana namanyaaaaaaa?????
BalasHapusLupa kasih nama hahaha..
BalasHapusPanggil Ano aja yak Den, mf td ktduran jd lupa kasii nama Den xixi
~Hajah Uniiiiiiiiiiiii.... ohhh itu ano mu tohhhhh????? ckckckkckck wkwkkwkwkwkkwkwkkwkkw :))
BalasHapushahahahahahah. iya, pesangonnya dipake mblasuk. hahahahahh.
BalasHapussalam kenal juga mbak ano. hehe.
o.s
wuih...keren..
BalasHapussalam kenal buat os dan salam cipok buat beb inyo...
Andin
~beib Andiiiiiin.... ntar inyo sampekeun salamnya. OS lg mbalsuk untuk nyelesein antologi puisi dan cerpennyaaaaa....hehehehhehe
BalasHapuswuaaahhhhh dapet cipokan nehhhhh????? makasih beib imeeeeeeeeeeel eh Kamila Andini.... jiahahahhahahahhahahaha
Good notes =)
BalasHapus~kepneg Mithyaaaaa... keknya OS mesti dipantau terus nih kalo ga ilang ditelan kelinci hehehehhehe :D
BalasHapus