Selasa, 18 Oktober 2011

Film "Lovely Man"

LOVELY MAN
Sutradara: Teddy Soeriaatmadja
Skenario: Teddy Soeriaatmadja
Pemain: Donny Damara, Raihaanun, Yayu Unru
Produksi: Karuna Pictures













Sepotong Puisi di Pinggir Jakarta

Sebuah rekaman puitis tentang ayah dan anak di sebuah malam di Jakarta.
Malam tak menghentikan Cahaya untuk menembus Jakarta. Gadis yang sesekali memuntahkan isi perut itu bertekad menemui ayahnya yang meninggalkannya sejak 15 tahun silam.

Di sebuah pojok Jakarta, sang ayah alias Syaiful alias Ipuy melalui riyual sebelum dia bekerja: mengenakan stoking, kutang, rok mini berkilap-kilap; cukur alis hingga berbentuk bulan sabit, pupur yang menyelimuti pipi, serta gincu yang melukis bibir.

Ipuy tahu, malam-malam di pinggir Jakarta adalah kehidupan yang (terpaksa) dipilihnya, seperti ketika memilih meninggalkan istri dan anaknya. Dia memilih menjadi dirinya sendiri: menjadi seorang lelaki yang berburu identitas. Dia mencarinya ke pinggir jalan Jakarta atau ke pucuk celana lelaki lain yang ingin pelepasan hasrat sekejap. Saat berhadapan dengan cermin, Ipuy tahu dia masih memiliki dua identitas.

Itulah sebabnya, saat Cahaya menemuinya. Ipuy merasa dipaksa terkurung di dalam tubuh yang tak dikehendakinya. Dia diseret oleh sebuah masa lalu. Pertemuannya dengan Cahaya membuat malam di Jakarta menjadi masam. Dia menolak dirinya. Dia menolak anaknya.

Film terbaru sutradara Teddy Soeriaatmadja yang ditayangkan di Perpustakaan Nasional Jakarta pekan silam (1-7 Oktober 2011) itu terpilih menjadi pembuka Q Film Festival ke-10. Inilah sebuah festival film yang menayangkan serangkaian film LGBT (lesbian gay biseksual transgender). Lovely Man bukan saja pilihan yang tepat sebagai pembuka festival, tapi juga karena inilah film terbaik Teddy setelah karyanya Banyu Biru (2005), Ruang (2006), Badai Pasti Berlalu (2007), dan Rumah Maida (2009). Ini bahkan salah satu film Indonesia yang terbaik yang pernah diproduksi beberapa tahun terakhir.

Sebetulnya cerita film ini sangat sederhana. Tapi Teddy menguraikannya seperti seuntai puisi yang berkisah tentang satu malam di Jakarta antara seorang ayah dan anak. Dalam satu malam itu, Teddy membangun perkembangan emosi ayah-anak dengan teliti. Kita mempelajari banyak hal tentang Ipuy yang menjual diri dan menilap duit preman. Semua itu dilakukan, selain untuk tetap mengirim biaya kepada mantan istrinya, untuk sebuah transisi identitas. Kita juga mempelajari sang anak, Cahaya, yang ingin bertemu dengan ayahnya karena dia dihajar sebuah dilema pribadi. Isak tangis sang anak tak kunjung meluluhkan Ipuy yang getir.

"Siang gue memang lelaki. Malam gue begini...," katanya dengan nada tajam. Ipuy bersikeras bahwa malam itu adalah malam terakhir mereka bertemu. "Setelah malam ini, kita berpisah. Putus." Cahaya terpaksa menyetujui dengan hati pecah.

Teddy mengarahkan dua aktor utamanya seperti seorang pematung menaklukkan tanah di tangannya. Donny Damara menyajikan sosok Ipuy hampir tanpa cacat. Sedangkan seni peran Raihaanun (Cahaya) yang subtil sungguh menggebrak layar. Kedua pemain ini seperti dua sosok yang saling sandar dan saling memberi. Begitu kuatnya duet ini, hingga warna gelap pada layar begitu bersinar setiap kali mereka tampil. Teddy telah melahirkan selarik puisinya yang terbaik.

Menyaksikan film ini, kita kemudian percaya kembali bahwa sinema Indonesia masih hidup. *Leila S. Chudori, Tempo Edisi 10-16 Oktober 2011.

Tinggal sekarang, apakah film Lovely Man ini akan tayang di bioskop-bioskop tanah air.

Cuplikan Lovely Man dari Youtube

0 comments:

Poskan Komentar

hati hati keinjek pupuk kandang, ya...