Ai, masihkah kau ingat jernih sungai Mahakam berbalut kabut di pagi hari? Saat pesut-pesut putih menari di udara memainkan salto? Masih kuingat cahaya mentari bergerombol di sela butir-butir embun di ekor kudamu. Kau serupa bidadari tengah menari di bibir sungai Mahakam, di atas ketinting, bergoyang di antara gelombang sungai terpanjang di Indonesia ini. Aku menikmati tawa kecil dibalik geligimu yang rapi.Ai, kau teman sebangku yang paling baik yang mau menerimaku sebagai anak baru di SMP Negeri Samarinda. Kau melindungiku dari ejekan teman-teman lelaki yang menggoda di sepanjang jalan menuju rumah. Tak kusangka kau penyandang sabuk coklat karatedo, dibalik penampilan lembutmu. Mata sayu di bawah renda-renda lentik bulu matamu tak menyiratkan sedikit juga ketegaran hatimu. Lelaki-lelaki iseng itu pun pergi begitu kau gertak.
Masihkah kau ingat cerita Donald Bebek, yang kau katakan suaranya mirip suaraku? Teganya kau menyamakan aku dengan Donald. Ketika aku bilang kau Desi Bebek, kau justru tersipu. Bukankah tas tanganmu berwarna merah muda, sama dengan kepunyaan Si Desi centil itu? Kau juga serupa tokoh Desi, suka mengambek jika aku terlambat menjemputmu dengan sepeda? Atau, kau merajuk tak mau bicara jika aku alpa membaca puisi-puisi yang kau selipkan di balik bukuku?
Masihkah kau suka menulis, Ai? Di setiap Minggu di koran Kompas, kucari-cari nama Ainun Fatima, siapa tahu salah satu tulisanmu ada di sana. Siapa tahu kau sudah menjadi penulis di Kompas, seperti yang kau idamkan selalu. Terkadang juga kubayangkan dirimu berdiri di panggung TIM, membaca sajak atau berdeklamasi, seperti yang sering kau lakukan sewaktu kita SMP dulu. Siapa yang tak kenal kau : jagoan menulis puisi dan cerpen, redaksi majalah dinding, wakil ketua OSIS, pelantun Qur’an terbaik di sekolah kita? Aku selalu mengagumimu, meski tak pernah memujimu secara langsung. Aku memang kalah dalam urusan itu, tapi kau selalu meminta bantuanku untuk PR Matematika, Fisika dan Biologi kan? Kukagumi kejujuranmu, meski selalu kurela memberimu contekan, kau tak pernah menyentuhnya. Kau hanya ingin kuajari. Dan aku pun iklas dan senang menjadi gurumu, sembari memandang ponimu yang jatuh menutupi mata indahmu, Ai.
Tahukah kau, Ai…kau cinta pertamaku? Berdegup jantungku setiap kali melihatmu. Berdesir hatiku setiap kali lenganku menyentuh kulitmu. Tapi aku takut, Ai. Takut mengungkapkannya padamu. Takut kau marah dan tak mau lagi jadi temanku. Ah, Ai…tahukah kau…aku gemetar menyadari aku hanya bisa membuka pintu hati buatmu. Aku tak tertarik pada Idrus atau Fandi, cowok idola di sekolah kita. Aku cemburu padamu setiap kali kau tertegun memandang mereka. Ah, Ai…aku malu dan takut ketika itu.
Ai, masih ingatkah setangkai anggrek hutan yang kuberikan padamu di hari Valentine? Tak kusangka matamu berbinar bahagia. Tak kukira kau kemudian memberi perhatian lebih padaku setelahnya. Kita sering berjalan bersama, menyusuri Mahakam, menikmati mentari terbit atau terbenam di balik semilir air. Memandang ketinting berseliweran membawa penumpang. Berdebat tentang apa saja berlatar coklat air Mahakam. Aku menemanimu menulis puisi, sembari kuperdengarkan musik-musik klasik untukmu.
Tapi, Ai…keindahan itu cuma sesaat. Tidak ada dalam hitungan bulan, kau dipindahkan orang tuamu ke Solo, ke sebuah pesantren. Aku tak tahu alasannya ketika itu. Tapi setelah dewasa aku sadar, mungkin mereka tak mau kau dekat denganku, sebab bola matamu kerap memantulkan cahaya bahagia setiap kali aku berkunjung ke rumahmu? Mungkinkah mereka menangkap pendar-pendar asmara meski telah kusembunyikan rapat-rapat dibalik tubuhku? Meski aku tak pernah menyentuhmu, meski aku dan kau tak pernah melakukan sesuatu pun? Kita menikmati rasa suka saat bersama. Itu saja. Salahkah itu, Ai?
Entah oleh alasan apa, kita berpisah. Entah karena apa juga, kau tak pernah membalas surat-surat yang kukirim ke pesantren. Awan berkelabu dalam hidupku, hari-hari terasa kering. Sungai Mahakam tak kurasa indah lagi tanpa kehadiranmu. Hingga aku merantau lagi dengan orang tua ke benua Kangguru, meninggalkan sepenggal kenangan di tanah Borneo…
***
Bertahun-tahun kucari kau, di setiap kesempatan aku berkunjung ke pulau tempat Enggang bersarang. Rupanya orang tuamu telah berpindah dan tak ada yang tahu beralamat di mana. Lebih sewarsa aku menabung harap suatu saat bersua kembali denganmu, meski hanya berjabat tangan, meski hanya saling pandang. Di manakah kau, Ai…cinta pertamaku yang hilang?
Gadis-gadis Australia tak mampu usir bayangmu dari benakku. Kuakui aku pernah jalan bareng dengan beberapa gadis di sana. Tapi mereka tidak seperti kamu. Andrea, Elizabeth, Estelle atau Juliette, mereka gadis-gadis Barat yang terlalu terbuka dan egois. Mereka tak begitu seberkuasamu atas hatiku. Cintaku yang eksotis untuk gadis campuran Dayak-Melayu, yang telah memerawani cintaku. Meski kau tak pernah mau mengambilnya…
Teknologi kemudian membantuku mencarimu. Kutemukan kau diantara puluhan alamat facebook teman kita. Gembira hati ku-add kamu. Astaga, mesti begitu lamakah aku menunggumu untuk dikonfirmasi? Lupakah kau padaku? Tak kenalkah kau pada foto profil yang kupampang di facebook?
Ai, kau begitu cantik dibalik jilbabmu. Tentu ilmu Qur’an membuatmu kian bercahaya. Kulihat di facebook kau menamatkan universitas di Mesir. Karena itukah, mungkin, kau seperti terbenam ditelan bumi? Ai, sungguh…aku tak pernah bermaksud menggganggu hidupmu. Setakut itukah kau padaku, hingga kau tak pernah mau membalas messageku lewat facebook, meminta nomor teleponmu? Ataukah kau sudah benar-benar lupa padaku? Ah, Ai…aku mengerti..kau pasti telah menyingkirkanku dari hidupmu, karena aku bukan teman biasa buatmu. Aku seseorang yang tak layak jadi teman buatmu…
Sia-sia kunanti balasanmu di facebook yang tak kulihat lagi statusnya update. Mungkin kau sibuk, mungkin juga kau tak begitu suka bergaul di dunia maya. Aku hanya bisa menikmati tulisan-tulisanmu di blog, masih sebening dulu dengan metafora berbalut kelembutanmu. Betapa bodohnya redaksi yang menolak tulisan-tulisanmu. Kau bintang yang berkelip dibalik langit kata-katamu.
***
Pagi masih bening, tawar tanpa matahari. Samarinda tak banyak berubah saat kutinggalkan bertahun-tahun lalu. Petinting tak lagi berseliweran di Mahakam. Jembatan megah terbentang menghantar ke tanah seberang. Pesut kadang muncul, kadang tidak. Mungkin sebab air yang terpolusi.
Penelitian akhir membawaku ke kota ini, membongkar kembali ingatan akan Ai. Profesor Gumaya mengarahkanku ke kota ini untuk mengambil sampel darah beberapa pasien penyakit SLE (Sindrom Lupus Endometreus) yang menjadi topik penelitian. Profesor Gumaya benar, di Borneo jumlah penderita SLE cukup tinggi dengan latar belakang kasus yang berbeda. Tapi SLE sendiri belum diketahui secara pasti penyebabnya apa.
Pagi ini ada lagi satu pasien SLE mengalami gawat di ruang ICU. Penyakitnya telah menyebar hingga ke paru-paru dan jantung. Kuteliti data riwayat pasien, berat badannya drastis merosot. SLE memang penyakit yang jahat, menghisap daging serta lemak para penderita sehingga kurus kerontang. Namun tiba-tiba lensa mataku membesar, mencoba meneliti tulisan yang kulihat samar-samar, mungkin rabun dekat telah menggerogoti usiaku. Tidak, tidak salah lagi…pasien ini bernama : Hj. Ainun Fatima! Astagafirullah!
Tergopoh aku menuju ruang ICU. Tidak salah lagi, itu Ai! Hidungnya tertusuk selang oksigen, dadanya penuh kabel. Kondisinya tak terlalu baik. Detak jantungnya ekstrim rendah dan tinggi. Tekanan darahnya juga tak begitu bagus. Perawat ICU menjelaskan bahwa Ai telah mendapat transfusi kemarin malam dan mungkin akan ditransfusi lagi hari ini jika keadaannya tak membaik.
Ai…begitu berubahnya dirimu. Penyakit telah menggerogoti tubuhmu. Wajahmu layu dengan mata cekung bergaris ungu. Rambut ikal coklatmu tergerai tak beraturan. Kelopak matamu yang sayu menutup cahaya yang selalu kurindukan itu. Kau pasti tak mengetahui aku berada di sampingmu saat ini, Ai. Kesadaranmu menurun. Ingatanmu pasti tak setajam bila kau sehat.
Ibumu ada di sebelah. Beliau tak ingat aku. Aku pun tak mengingatkan Beliau. Aku takut, aku dipisahkan lagi darimu. Biarkan aku mendampingi dan merawatmu, Ai. Meski dengan cara seperti ini. Ah, ada seorang laki-laki gagah tampak begitu menyayangimu, berdiri gelisah di luar ruang ICU. Pastilah ia suamimu, Ai, atau mungkin kekasihmu. Terbersit rasa cemburu bila melihatnya, betapa beruntungnya ia mendapatkanmu.
Aku selalu berjaga di ruang ICU untuk memantau keadaanmu, mengecek detak jantungmu, mengukur tensimu, melakukan asistensi dokter-dokter ahli yang merawatmu. Aku ingin kau sembuh, Ai. Tahukah kau, penyakit SLE demikian jahat? Kudengar dari Ibumu, kau tak pernah diberitahukan mengenai penyakit yang telah kau derita selama dua tahun. Dari cerita beliau kepada para perawat, kutahu, bahwa kau masih mengajar di universitas negeri Samarinda meski dalam keadaan sakit sekalipun. Kau masih melantunkan Qur’an di pengajian-pengajian meski tubuhmu kian ringkih. Rindunya mendengar suara indahmu, Ai, serindu aku pada Borneo dan kepak sayap Enggangnya.
Hanya semangat yang bisa menyembuhkanmu. Hanya kuasa Allah yang bisa membangkitkanmu dari tidur panjang. Keadaanmu tak membaik juga, meski seminggu sudah dirawat di ICU. Sudah kuusahakan, Ai..membawakan sebotol serum dari Australia, tempatku menimba ilmu, obat hasil penelitian yang diupayakan bisa membantu kesembuhan penderita SLE sepertimu. Tapi serum yang diinduksi itu pun belum mampu membangunkanmu. Kau terbaring lemah dengan mata mengatup selalu.
Aku tak berani menyentuh seujung pun dari kulitmu. Namun jika berada di sebelahmu untuk mengecek peralatan medis, selalu kubisikkan doa-doa buat kesembuhanmu. Inginnya aku memelukmu, membisikkan puisi-puisi indah yang pernah kau tuliskan untukku. Terkadang, terbersit anganku memutar Mozart atau Bethoven untukmu, tapi tanganku terkunci, sebab ada ibu, ayah serta lelaki itu yang teramat setia mendampingimu. Kau pun tak pernah bergeming, apalagi mengenaliku.
Ai, di hari kedelapan, tepat saat adzan Subuh berkumandang, setengah bermimpi aku melihatmu dari balik kaca. Ruangmu sepi penunggu. Mungkin ayahmu keluar bersiap untuk berwudhu. Aku kemudian bersijingkat masuk ke ruangmu. Kepalamu bergerak, matamu tiba-tiba membuka.
“Ai?”
Matamu berkedip-kedip, mengingat-ingat.
“Ai?”
“Farah?”
Alhamdulilah…!! Kau mengenaliku! Aku tersenyum bahagia dibalik mata kuyu karena terlalu banyak bergadang menungguimu. Lega rasanya melihatmu membaik.
“Apakah aku mimpi? Kenapa kau ada di sini?”
“Hei…kau tidak mimpi, Ai. Kau sedang sakit, aku di sini sebagai dokter, merawatmu.”
“Kau? Dokter?”
“Ya….kenapa? Kau tak percaya?”
Ai tersenyum, lalu mengangguk. “Terima kasih ya…”. Kemudian ia tertidur lagi. Kucek tekanan darahnya, drop. Kucek monitor jantung, menunjukkan garis menurun. Astaga….!! Kenapa jadi begini? Mimpikah aku tadi berbicara dengannya?
Buru-buru kupanggil tim medis. Bibir Ai mengatup rapat. Jantungnya kian lemah, bahkan detaknya nyaris tak ada. Tim medis kemudian bergegas melakukan kejut jantung. Oksigen dipompakan lebih kencang. Namun tidak berguna juga. Allah berkehendak lain. Ai pergi tepat saat mentari muncul selepas Subuh. Tangisku tumpah serupa bah di Mahakam. Kupeluk tubuhnya yang masih hangat. Inna lilahi wa inna lilahi roji’un…
*Nepenthes, 05 Oktober 2011
bagus banget cerita na mbak, tp kok gak happy ending :(
BalasHapusNtan
wahhhh bagus mbak, cerita na lembut. dapet saingan lagi ne den Inyo, dulu dokter Nadia, skrg dokter Farah. khekhekhekhe
Silver
~Silver n maNtaaaaaaaaaan.... mungkin Nepen lagi mellow nih buatnyaaaaaaaaaaaaa.... biasa lah tergantung mood mah.... wkwkkwkwkkwkwkkwkwkkwk
BalasHapusSilveeeeeeeeeer.... derita inyo dehhh kalo mimpi Nepeeeeeeen msh berlanjuuuuuuuuuuuut.... hiksss hiksssss... *crooot* hihihihihi
Ciiik aciiikkk ad crpen k nepen, maacih y k.... Neth tggu crpen brtnaaaa xixixixixi
BalasHapus~Arnetha... sama sama ya Arnetha. Jadi tambah semangat neh nulis cerpen xixixi
BalasHapuswah....cerita ngena bgt.jdi ikutan mellow.
BalasHapus~anonaaaaa.... mellow sih bolehhhh tapi jgn lupa ninggalin nama dong dong...... hehehe
BalasHapusWahhhh inyooooo saingannya nambah euy. Mba nepen hmm soft story seperti makan brownies hmmm yummy.
BalasHapusInyőooooo menurut inyo mending dokter nadia atau dokter farah?
-dree-
~Dreeeeeeee.... gapapa sissss... wong saingannya ga berwujud en cuman dlm mimpi iniiiiii.... wkwkkwkwkwkkwkkwkwkkwkwkkw....
BalasHapusbagi inyo ga dokter nadia juga ga dokter faraaaahhhh... pokoke berbau dokterrrrrrrrrr dehhhhhh.... jiahahahahahhahahahaha :))
Kasih jempol banyak2 buat cerpen nya mbak nepen...
BalasHapusCiintaygsalah
hhhmmm....'merinding'bacanya
BalasHapusKEREN BANGET
~Vey'ratisalya.... makasih jempol n perhatiaannya yaaaa... *cipok* dari Nepen yg diwakilkan ke Inyooooooooo.... hehehehe
BalasHapus~HanyaAndreaaaaaaaaaaaaaa.... hhhmmmm kalo merinding lagiiii cini bial inyo peyuk peyukkk yaaaaaaaa..... wkwkkkwkwkkwkwkwkkwk
BalasHapus