
Sebentar lagi beduk Magrib berkumandang. Adzan kan menggema berlatar jingga petang di desa Langit Biru. Uni bersibuk diri bersama ibunya menyiapkan kolak pisang dan makanan berbuka. Randu sudah wangi, duduk bersila di amben bersama abah, menunggu waktu buka tiba.
Lelah dan lapar tak sanggup menghapus bayang-bayang Nadia dari benaknya. Meski musim panen coklat dan kopi telah menyibukkan harinya, namun kenangan-kenangan indah bersama Nadia selalu memenuhi kepalanya. Andai kau ada di sini, Nadia, aku cukup kenyang melihatmu melahap segala hidangan kesukaanmu, seperti waktu kita berbuka bersama di apartemenmu di Jakarta.
Dalam dzikir dan doa-doa yang berkumandang saat Tharawih tiba, hanya Nadia dan Nadia ada dalam hatinya. Beribu ampun diucapkan dalam hatinya, merasa dosa yang teramat sangat, karena otaknya tak mampu mengontrol bayang-bayang Nadia dalam setiap shalatnya. Allah pasti murka. Mudah-mudahan Allah mengampuninya.
Enam bulan bukan hal mudah bagi Uni, sekembalinya ke desa, menggarap kebun dan sawah yang dibelinya dari hasil menabung selama 2 tahun bekerja di salon di Jakarta. Lebih mudah mencari uang di Jakarta dibanding desanya yang sunyi dan terpencil ini, tapi ini sudah menjadi ketetapan hati. Keputusan yang dianggap terbaik buat dia dan juga Nadia. Meski Nadia tidak terima, walau Nadia hingga kini tak mau bicara dengannya.
Ini buat kebaikan Randu, tak baik Randu melihat ibunya menjanda terus, apalagi hidup serumah dengan Nadia, yang jelas-jelas selalu memberinya perhatian ekstra. Ini juga buat kebaikannya, karena perbuatannya tak direstui Allah, sehingga hatinya selalu tak tenang dan gelisah. Ini juga buat kebaikan emak dan abah, karena mereka sudah tua dan sudah selayaknya beristirahat saja, tak usahlah mengurus Randu dan kebun, sawah serta ternak mereka. Terutama sekali ini buat kebaikan Nadia…seorang dokter seperti dia, sudah sepantasnya berdampingan dengan Dokter Edo, dokter ahli mata yang ganteng dan baik hati itu. Kasihan dia, setiap kali datang tidak diacuhkan Nadia. Sementara orang tua Nadia begitu bahagia melihat Nadia didekati dokter Edo.
Letih. Mungkin itu yang dirasakan Uni. Letih bersembunyi. Lelah menahan hati. Dialah yang berusaha untuk membujuk Nadia agar mau diajak keluar kencan dengan dokter Edo. Dalihnya supaya orang tua Nadia bahagia dan tak curiga dengan hubungan mereka berdua. Bisa dirasakan keengganan Nadia. Uni paham Nadia pergi karena permintaannya. Tapi kenapa hati ini sakit juga melihat Nadia digandeng dokter Edo? Mengapa ada perih mengiris batinnya setiap kali melihat Edo memeluk mesra Nadia?
Munafik, itulah kecaman Nadia atas tingkah lakunya. Uni hanya bisa berdiam diri, bersembunyi dari tatap Nadia. Uni lalu melangkah ke kamarnya, menangis diam-diam dan merenda sedih di atas bantal. Nadia yang keras hati, tidak pernah mau bicara apalagi meminta maaf, supaya Uni sadar bahwa ini semua karena Uni yang minta. Sarapan yang dibuatnya pun tak disentuh Nadia. Berhari-hari dia didiamkan. Hingga hari ke tujuh setelah kemarahan Nadia surut…ditemukannya setangkai bunga anggrek putih menghias vas bunga di atas meja riasnya. Ketika ia mencium harumnya, tanpa disadari lehernya telah dicium Nadia, dan mereka pun merajut episode cinta seperti hari-hari sebelumnya…
“Tahukah kamu, aku tak pernah bisa membencimu, Uni?” Nadia berbisik sembari mempermainkan poni Uni. Butir-butir keringat membasahi dahinya. Uni hanya bisa tersenyum. Ia tak pandai merangkai kata. Mengalah baginya adalah kemenangan. Seperti juga hari itu, kepengalahannya membuahkan hasil. Nadia menyerah juga akhirnya….
Uni pun tak pernah mampu membenci Nadia. Jangankan benci, Uni hanya punya cinta dan kasih sayang. Dia tak mampu mengembalikan segala perhatian serta materi yang dihujankan Nadia kepadanya. Dia tahu betapa cinta Nadia padanya, tapi disisi lain ia tak mampu melawan hatinya dan berbohong terus-menerus bahwa ia tak bisa bahagia diatas penderitaan orang-orang yang dikasihinya di kampung. Bagaimana robek hati emak dan abah jika mereka tahu bagaimana hubungan Nadia dengannya? Bagaimana rusaknya masa depan Randu jika ia suatu saat ia tahu ibunya memiliki hubungan khusus dengan Nadia? Bagaimana pula murka Allah jika ia tetap lanjutkan hubungan yang jelas-jelas salah di mata-Nya?
Mengganti bantal basah di pagi hari oleh air mata yang kerap mengalir di malam buta, menjadi ritual buat Uni. Hatinya sakit setiap kali ingatannya dikerubuti bayang-bayang pesta pernikahan Nadia yang akan dilakukan setelah Lebaran usai, berita yang didengarnya dari Fikri, satpam apartemen. Seharusnya ia bahagia, tapi ia tak mampu cegah sakit yang selalu melukai dadanya. Mungkin benar kata Nadia, ia munafik. Jika aku orang kota dan berpendidikan, mungkin aku mau pergi dengan Nadia ke Amerika seperti yang selalu Nadia tawarkan padanya. Tapi apalah ia, Uni hanya perempuan kampung yang sudah janda. Bagi orang kampung, lebih terhormat jadi TKI di Arab daripada hidup bersama seorang perempuan dan meninggalkan seorang anak beserta orang tua yang renta.
Pilihan yang tak mudah. Dengan kesederhanaan pikirannya, ia mencoba memahami Nadia dan memutuskan yang terbaik buat mereka berdua. Dibohonginya Nadia bahwa emak dan abah memintanya menikah dengan Pak Said, duda juragan kambing di desa. Dia tak mampu menolak sebab emak dan abah berhutang budi di masa lalu kepada Pak Said. Nadia yang tak terima tak pernah mau bicara dengannya, sehingga ia pun pergi hanya meninggalkan sehelai surat dan mengembalikan semua pemberian Nadia. Meski hatinya tak pernah mau kompromi….meski batinnya terus meratap….
***
Pagi masih muram berlumur kabut, abah dan Randu bersidekap di depan tungku kayu mencari hangat. Uni dan emak sibuk memilih biji coklat untuk dijemur siang nanti. Hasil panen coklat lumayan buat persiapan Lebaran yang mendekat dua minggu lagi.
“Kapan kamu menikah lagi, Uni?” emak bicara perlahan sembari memilah biji coklat di atas nyiru.
Uni tertunduk diam sejenak. Dia menggelengkan kepala, kemudian tersenyum kepada emak. “Uni belum berpikir ke sana dulu, Emak. Randu masih kecil, biar Uni besarkan Randu dulu.”
Emak terbatuk-batuk, lalu melanjutkan bicaranya. “Tak baik Randu berlama-lama tumbuh tanpa ayah. Dia kan anak lelaki, dia perlu tauladan, dan kamu perlu imam dalam keluarga. Tak baik menjanda terlalu lama….”
Hhhh….emak, selaluuu begitu. Emak tak suka dengan status jandanya yang kini menjadi gunjingan tetangga. Padahal kan Uni tak pernah mengganggu suami-suami mereka. Uni pun membatasi diri untuk tak berlama-lama mengobrol dengan para pria di kampung itu.
“Belumlah, Emak. Uni perlu waktu sendiri dulu. Kalau emak memang tak suka melihat Uni begini, mungkin lebih baik Uni ke kota lagi….” Uni mengancam sedikit merajuk. Belum apa-apa dia sudah mengeluarkan “kartu As”nya, karena Uni tahu persis emak tidak bakal setuju kalau Uni pergi ke kota lagi.
“Hush! Kamu tuh sukanya ngancam emak terusss…Neng! Bukan, bukan begitu maksud emak. Banyak pemuda ganteng di kampung ini yang sepertinya suka sama kamu. Contohnya Si Ujang. Dia kan baru datang dari Malaysia. Wajahnya lumayan. Shalatnya rajin. Bekalnya udah cukup buat menikah. Dia suka kemari menanyakan kamu. Dia juga terlihat sayang dengan Randu. Nah…apa lagi?”
“Ujang, Mak? Ah…dia kan Uni anggap sebagai adik. Gak enaklah….”
Hhhhh….emak mengeluarkan lenguhan yang lebih mirip keluhan. Sesak rasanya didesak terus oleh emak. Tidak pernah pantang mundur. Selalu menyodorkan lelaki kampung yang dianggapnya layak mendampingi Uni. Ah, emak…tahukah emak..di dada Uni hanya ada nama Nadia…Nadia…Nadia…! Kalau saja Nadia itu lelaki, Uni pasti bawa Nadia ke hadapan emak, minta restu buat menikah! Pasti emak bangga bermenantukan dokter seperti dia. Tapi gak mungkin toh? Jangan-jangan emak malah semaput kalau Uni minta restu pergi bersama Nadia ke Amerika!
Uni terdiam lama. Tangannya sesekali menggerakkan tampah, memilah biji-biji coklat setengah kering. Ayam-ayam tetangga suka nakal, menggerayang di atas biji-biji coklat yang tengah dijemurnya, sehingga biji-biji coklat bercampur dengan kerikil yang dibawa ayam itu. Kalau saja ini bukan bulan puasa, sudah dipotongnya ayam-ayam nakal itu! Biar jadi kare saja mereka itu semua!
Ah, emak…emak hanya perempuan biasa. Merasa gelisah jika anak perempuan seumurannya masih sendiri. Menganggap lelaki serupa dewa yang bisa melindungi perempuan. Bukankah emak sudah melihat sendiri bagaimana Uni disakiti abang? Bagaimana bisa abang disebut sebagai pelindung Uni kalau dia tidak bisa membahagiakan Uni? Lain dengan dokter Nadia…dia segalanya..Sudah pintar, baik, selaluuuu bisa membahagiakan hati Uni dengan perhatian-perhatian kecilnya. Andai saja…andai saja dia dan Nadia hidup di kehidupan yang lain, dia tak mau berpisah sedetik pun dengan perempuan itu…Nadia, di manakah kamu sekarang? Tengah menikmati bulan madumu? Masihkah kamu rindukan aku? Ah, hanya kepada sungai ia mengadu. Sungai jernih di belakang rumah, tempatnya mengalirkan tangis. Sungai tempatnya membenamkan segala kesedihannya. Sungai yang ia percayai akan membawa pesan sedihnya kepada Nadia di Jakarta. Sungai yang seringkali ia minta untuk pantulkan jeritan hatinya, bahwa ia masih sangat mencintai Nadia…..
Deheman emak membubarkan lamunan Uni. “Ya sudah, Neng…kalau memang belum bertemu jodoh. Tapi emak harapkan jangan berlama-lama menjanda, tak baik dengar kata orang-orang sekampung ya…” Emak berpesan sembari mengangkat tampah-tampah bambu, lalu meletakkannya di halaman, bersiap dipanggang matahari.
Uni tak menyahut. Diamnya bisa berarti “ya”, bisa juga menandakan tidak setuju. Beginilah susahnya kalau hidup di kampung, tak pernah lepas dari gunjingan tetangga. Menikah, digunjingkan. Tidak menikah, juga digunjingkan. Tak pernah ada yang benar di mata mereka. Kalau saja tidak memikirkan emak dan abah, lebih baik rasanya tinggal di Jakarta saja.
Disusunnya tampah-tampah berjejer rapi di halaman. Biji-biji coklat menghitam mengingatkannya akan pasir di pesisir Ancol, tempatnya dan Nadia berakhir pekan. Sembari menikmati matahari tenggelam, mereka bergandengan tangan, sesekali berpandangan. Tidak ada yang mengganggu, apalagi menggunjingkan. Ah, Nadia…tengah apa dia sekarang? Bermandikan kasih dengan dokter Edo di pulau Bali? Uni ingat betul kalau Nadia selalu merayunya agar mereka berkesempatan ke Bali, bermandikan matahari. Tapi Uni menolak. Entah kenapa, dia cemas setibanya dari Bali, ia kian takut kehilangan Nadia. Semakin banyak kenangan indah yang mereka ciptakan, takut kian menghantuinya. Takut dia tidak siap menerima mimpi buruk, bahwa suatu saat ia akan berpisah dengan Nadia…
Sebutir air matanya membasahi tanah berembun. Biarlah hanya Allah yang tahu bagaimana perasaannya saat ini. Biar hanya Allah yang akan memberinya imbalan atas segala pengorbanan yang ia lakukan untuk orang-orang tercintanya, termasuk Nadia…
***
Beduk bertabuh diiringi suara takbir sejak magrib tadi. Para lelaki di desa Langit Biru beserta anak-anak berjalan beriringan menyusuri desa menyambut Lebaran. Bulan Ramadan telah terlewati. Ujian telah dilampaui. Kini saatnya bersuka ria. Randu pun ikut berjalan menggemakan takbir, mengenakan sarung, baju koko serta peci yang dibelikan Uni di pasar kota minggu lalu. Uni beserta ibu-ibu sekampung duduk-duduk di balai desa, bersiap dengan aneka penganan serta minuman segar untuk menyambut rombongan pelantun takbir.
Sejenak ibu-ibu yang tengah asyik mengobrol terkejut, dengan kedatangan sebuah kendaraan dengan lampu menyilaukan. Mereka menunggu siapa gerangan tamu istimewa yang singgah di malam takbir ini. Mata Uni membesar, terkejut ketika menyadari siapa tamu istimewa itu. Mulutnya tak mampu mencipta sepatah kata.
“Aih, dokter Nadia!” Bu Imron, tetangga Uni, menyeru di tengah kesenyapan. Para ibu menghambur ke arah Nadia, bagai kumpulan fans menggerubungi bintang film favoritnya. Kelelahan tergurat di wajahnya, namun canda ria terumbar di bibirnya. Ibu-ibu pun tak kalah senangnya, apalagi semua dioleh-olehi makanan serta kain kebaya. Ah, Nadia memang jagonya soal mengambil hati…
Kerumunan ibu kemudian bubar karena rombongan takbir telah datang menagih konsumsi. Mereka lalu bersibuk melayani para lelaki sembari mengurus anak-anak mereka yang ikut juga.
“Hai!” Nadia mencolek bahu Uni yang sedang sibuk mencari Randu. Mata mereka beradu. Rindu terumbar di baliknya. Ah, Uni tersipu…lalu menundukkan kepala. Dia gugup menyadari situasi yang tak memungkinkan keduanya melepas kangen.
“Randu! Apa kabar? Waduh, sudah besar ya…!!” Nadia mengalihkan perhatian. Dipeluknya Randu yang kini sudah tinggi besar. Randu tampak gembira bertemu Nadia, apalagi Nadia memberinya oleh-oleh mobil remote control yang diidamkannya sejak dulu.
“Mak, Randu mau coba mobil-mobilan hadiah Bu Dokter dulu ya…!” Randu segera berlalu bersama Yadi, temannya. Ia sudah lupakan Uni dan Bu Dokter..
“Kita pulang…? Aku ingin beristirahat…” rajuk Nadia. Uni tergagap, menyadari kebodohannya. Tentu saja Nadia teramat lelah, menyetir sendiri dari Jakarta ke kampungnya.
“Kamu tidak bahagia aku kemari?” tanya Nadia. Satu tangannya memegang setir, satunya lagi memegang rokok yang tengah menyala. Jalan berlubang terkadang membuat Uni oleng dan tergiring ke arah Nadia. Sesekali badan mereka bersentuhan. Namun Uni mencoba sekuat hati untuk menahan segala hasratnya.
“Hhhmmmm…tentu saja…”
“Bahagia?”
“Ya, bahagia…” Uni tersipu dibalik kerudungnya. Ah, Nadia memang suka iseng menggoda…
Nadia meminggirkan kendaraannya di sebuah tempat sunyi. Jengkerik mengerik menemani bunyi knalpot kendaraan Nadia. Perlahan, digenggamnya jemari Uni.
“Boleh?” tanya Nadia. Uni mengangguk malu. Diciumnya kedua tangan Uni sepenuh hati.
“Kamu pasti bertanya kenapa aku tiba-tiba ke mari kan?” Nadia menghirup rokoknya sekali lagi, lalu dibuangnya puntungnya keluar jendela. Uni mengangguk. Matanya tak mampu lagi menutupi rindu yang bercahaya di sepanjang ruas bola matanya.
“Aku membatalkan pernikahanku dengan Edo…Orangtuaku kecewa dan marah, lalu mereka merayakan Lebaran di Medan bersama Pak Cikku yang tinggal di sana. Tapi aku yakin mereka bakal memaafkanku, kok. Yah, daripada merayakan Lebaran sendirian di Jakarta, lebih baik di sini bersama kamu dan keluarga kan…??” Nadia tersenyum lebar, seperti terlepas dari beban berat.
“Kenapa dibatalkan?”
“Karena aku tahu kau telah berbohong soal pernikahanmu itu….!”
“Jadi….??”
“Tidak mudah kan membohongiku? Apalagi membohongi diri sendiri…Sudahlah…kita tidak usah membahas itu lagi, oke? Aku hanya ingin merayakan Lebaran bersamamu. Titik. Boleh kan…? Aku tahu batas-batasnya kok…Boleh ya?”
Uni tersenyum lebar. Siapa yang bilang tidak bolehhh….??? Ah, bahagianya. Puasanya berbuah manis. Nadia jauh-jauh datang dari Jakarta mencarinya untuk merayakan Lebaran bersama.
“Selamat Lebaran ya, Uni…Mohon maaf lahir dan batin.” Nadia memeluk Uni erat. Uni pun memeluk Nadia erat. Diciumnya tangan Nadia…”Minal Aidzin Walfa Idzin…”
* Nepenthes, 27 September 2011
* Beginilah jadinya bila penulisnya terobsesi dengan sosok seorang dokter *derita Nepen* wkwkkwkwkwkkwkwkwkkwkwk
* Bagi pembaca selamat menikmati kembalinya Dokter Nadia dan Uni. Mudahan tidak kembung dan mual-mual. Cerpen ini kami sambung kembali karena banyaknya inbox yang masuk dari sista-sista yang meminta untuk melanjutkan kisah bu dokter. Jadi bisa saja kisah Nadia dan Uni akan berlanjut atau tamat sampai disini, tergantung mood dan obsesi penulisnyaaaaa.... hahahhahaha :D
hihihihi... akhirnya asoy euy..
BalasHapuslanjut..lanjut..lanjut..
#bawa-bawa papantulis (kok??) kayak demo
:)
~Feuyeum for Funhhhhhh... Lanjuuuuuuuut????? Capsus cyiiiiiinnnnn.... Hihihi
BalasHapusei lupa mo bilang ke Mba Nepen,,makasih ya da disambung....
BalasHapusnmny_el
Weeewwww, cihuyy ada sambungannya :D ayo dilanjuuuttt lagiii ddunkkkk :D *kasih hadiah cipok sama nepen, emuuaacchh *digolok den inyo :'(
BalasHapuslho comment ku sblumnnya kq ga ada?
BalasHapus:(
Den yg benar tu di cari feuyeum for funh...hahahahaha
boleh di bantukan tak Den?wwkkwkwwk
nmny_el
el : ehm..ehm.. #wajah merah padam langsung cabut
BalasHapusel,,klo promosi di sini kena upeti ntar.. hhahaha.. piss kak inyo..
kak inyo : hyuuuukkk cyiiiinn... #tepok pantat el (loooohhh..???) hahahahaha...
~Nmny Eeeeeeel... Terimakasih juga dah sudi ngikutin cerpen eh cerbung bu dokter nyang bikin kembuuuuung ini hwhehehehe
BalasHapuswuahhh kalo ntuk si feuyeum for funhhh, el aja deh nyang cariin, yakkkk yaaaakkkk gak enak inyo masak tetonggo makan tetonggo???????? Kqkqkqkq
~Aleeeev cyintahkyuuuuu.... Udah inyo sampekeun lgsung cipoknya ke nepeeeeeeen, katanya "enyak enyak" hihihihihi... :D
BalasHapus~Feuyeum for Funhhhh... Tenang say, di sini mah bebassssss koq bebas cipokin kamyuuuuuuuhhhh wuahahajahahahaha
BalasHapusK Nepeeeeeeeeennnnnnnn mksih y dah lanjutin dok nadiaaaaaaaaaa
BalasHapusarnet jth cntrong ma dok nadiaaaaa naaaaaa xixixixi
*peyuk peyuk k nepen, bekep mult k nyonyok pke kolor* xixixixixix
saran ni k nyonyok bijimn klo kish dok nadia dbundel tsindri jd g rempong cri na klo kngen ma dok nadia???????? Bijimn kaaaakkkkkkkkkkkkk????????? xixixixi
~Arnethaaaaaaa... Yeeeeee kalo mulut inyo dibekep bijimane mo cipok arnethaaaaaaaaaa??????? Wkwkwkwwkwkw
BalasHapuswuahhh benul tuh sarannya. Makacihhhh yaaa arnethaaaaaa *cipok* hihihihi
Ehh aq dh bs komeng di blooogg orang2 lg ciihuuuuyyyyyy...
BalasHapus~maNtaaaaaaaaaaaaan.... astagaaaaa....ini pasti pengaruh feuyeum penghuni kost itu, kaaaaaaaaaaaaaaaan????? ckckckck
BalasHapushwaa.. aq baru tau blog ini.. dan ternyata setelah menghabiskan malam minggu dengan menghabiskan tulisan yang ada di blog ini, cerita nya seru2 juga.. apalagi cerbung sama cerpen nya :D dan cerita tentang dokter nadia seru banget haha.. seneng ngikutinnya.. haha, halo mbak nepen.. saya mahasiswa kdokteran. salam kenal ya? wkwkwk bahaya ntar ditimpuk sinyo nih :p tenang, saya hetero kok hhi, dan anyway salah satu dr kalian (mba sinyo or nepen) ada yang orang dayak ya? cuz i'm dayak either wkkwkwk, pas baca cerpen yang "cinta pertama q ai" itu
BalasHapus~Nonieeeeeeeeeee... sebelumnya makacih ya udah mau berteman ama inyo di FB dan sudi menghabiskan malam minggunya di kebon ijo ini. hehehe
BalasHapusInyo bisa dibilang ada dayaknya bisa juga tidak. lebih ke melayu yaaaa.... bhsa dayak inyo ga terlalu bisa lbh fasih bhsa banjar dan kutai. hehehehehhe....
Whaaaaaaaaaaaats???? Nonie calon dokterrrrrrrrrr???? ohhhhh tidaaaaaaaaaaaaaaaaak!!!! mengapa???? mengapa Nonie ga bilang dari kemaren, kalo tau gitu pan komen kamu inyo moderasiiiiiiii.... hikssss :(( *berdoa* mudahan nepen sibuk hingga ga sempet maen ke kebon....hikssss hikssss *airmata buaya* wkwkwkkwkwkwkwkkwkwkwkkwkkw
hihi.. sama aq juga lebih ke bahasa dayak-melayu, banjar juga bisa secara keluarga juga ada yang orang banjar haha..
BalasHapusoh ya cerita dokter-dokter nya di lanjut donk? bikin lagi gitu.. seru banget ngikutin si dokter nadia sama dokter satu nya itu, pkoknya asik dah.. sering2 ngepos juga biar aq rajin main ke kebon sambil nyangkul wkwkwk..
tenang saja nyo, tak akan ku rebut nepen dari pelukanmu. moga langgeng always ya? *amiinnn hihhi
ps: salam buat mba nepen huahahaha
~Nonieeeeee...tenang aja jgn takut jgn khawatir ini cuman kentut bukan petirrr hehehehe becandaaaaaaaa wkwkwkwkwkwkwkwk
BalasHapusiyaaaa mudahan nepen blm terlanjur kembung ntuk lanjutin dokter dokterannya yaaaaaaa???? Hihihihihihihi