Uni selalu menanti senja. Saat mentari semburat di ufuk Barat, ia menuntas riuh rindunya, meski hanya lewat tatap hangat Bu Dokter. Saat-saat yang selalu dinantinya, detil dalam hitungan detik yang melenakan. Bu Dokter datang menengok Randu, putra semata wayangnya, memeriksa dada si kecilnya yang baru berusia empat tahun dengan stetoskop, kemudian mengetuk jemarinya di bagian perut. Meski singkat, sederhana dan terlampau rutin, tapi selalu istimewa baginya.Sejak dua minggu ini, kunjungan Bu Dokter memang selalu dilakukan sebab asma Randu mulai kambuh sedari musim hujan tiba. Angin dingin tak bersahabat menusuk paru-parunya dan si kecil tak sanggup menahan sesak yang mengganggu nafas. Bu Dokter yang baik hati bersedia menjenguknya sepulang kerja dari puskesmas. Katanya, Uni tak perlu repot ke puskesmas memeriksakan Randu, Bu Dokter yang justru menawarkan diri melakukan kunjungan rutin hingga Randu sembuh. Toh, juga setiap kali pulang ke rumah dinas, Bu Dokter selalu lewat di rumah Uni, begitu alasannya. Uni senang tentu saja.
Entah kenapa, Uni merasakan hal lain. Mungkin sejak kejadian itu...peristiwa yang tak hendak ia lupa. Dikarenakan ruang periksa puskesmas yang sempit, tak sengaja bibir Bu Dokter menyentuh bibirnya, juga payudara keduanya bergesekan, saat Bu Dokter melewati tubuhnya yang agak montok, untuk mengambil obat di meja persis di sebelahnya. Hangat menyelinap di balik jantungnya. Pipinya memerah. Dilihatnya Bu Dokter tersenyum dan menatapnya hangat. Tidak. Mungkin ia salah sangka. Tapi Uni suka dengan perasaan ini. Rasa yang lain dibanding rasa yang pernah ia kecap sewaktu pertama kali berkenalan dengan Abang.
Abang terlalu lama meninggalkannya. Tiga tahun lebih tak berkabar, pamit mencari kerja di kota dan hilang berita hingga kini. Tapi Uni tidak mempermasalahkannya. Sebab itu adalah hal lumrah. Separuh lebih lelaki di desa Langit Biru pergi merantau dalam sepuluh atau lima belas tahun lamanya. Kepulangan mereka pun cuma sebulan atau dua bulan semasa Lebaran, setelah itu, para lelaki membuang usia kembali di tempat rantau hingga umur menggerogoti dan tubuh tak kuat lagi bekerja.
Di desa ini memang dipenuhi perempuan. Jika pun ada lelaki, itu adalah anak-anak dibawah usia 17 tahun atau lelaki renta yang sudah tak mampu bekerja lagi. Lelaki di Langit Biru memang diwajibkan merantau setelah menikah dan punya anak. Mereka kembali setelah dianggap sukses dan mampu membeli ladang serta ternak. Jika tak sukses di tempat rantau, lelaki Langit Biru akan malu pulang dan tak akan pernah jelas lagi kabarnya. Sedangkan perempuan mengolah ladang untuk menghidupi diri serta anak-anaknya.
Uni hanya perempuan biasa. Beberapa tahun ditinggal Abang, ia mungkin rindu. Kangen yang ia coba atasi, meski tetap saja tak bisa tertutupi. Gairah mudanya kadang menggelegak membobol tanggul-tanggul pertahannya. Mungkin Uni hanya rindu belai Abang, begitu hiburnya selalu, manakala perasaan ganjil itu datang. Melamunkan senyum Bu Dokter dan tatap hangatnya yang membalut kalbu, selalu menjadi hal rutin yang menggugah gairahnya. Meski ia hanya berani menyimpannya di bawah bantal saat lelah menggerogoti dan kantuk tak kuasa ia tanggulangi.
Bu Dokter kerap memegang tangannya, lalu meletakkannya di dada Randu. “Sesak nafasnya sudah berkurang, bukan?” Bu Dokter ingin meyakinkan Uni, bahwa Randu telah membaik. Sengajakah dia? Atau begitukah memang dokter berbuat untuk para pasiennya? Entah, Uni tidak mau berpikir panjang. Dia senang. Berbalut bahagia. Hanya itu yang dirasanya.
Hari kian berganti, Randu telah sehat dan bisa bermain seperti sedia kala. Bu Dokter yang baru bertugas dua bulan di puskesmas itu pun kian jarang datang. Uni merasa kehilangan. Sambil mengawasi Randu yang tengah tertawa ceria bersama teman-temannya, ia membongkar lamunan tentang Bu Dokter yang pintar itu. Hmm..entah apa yang menarik darinya. Cantik? Tidak. Rambutnya malah tergolong pendek dibanding perempuan umumnya. Menurut Uni, Bu Dokter yang kulitnya putih itu lebih tepat disebut tampan. Bahkan, suaranya pun agak serak, tidak nyaring seperti perempuan lainnya. Dengan mengendari mobil hard-top merah marunnya, ia tampak gagah. Ia kerap mengajak anak-anak berkeliling desa. Tak luput, Randu pun sering diajaknya. Aih, tentu Uni bahagia, menatap Randu tertawa senang terempas gelombang jalan di kursi empuk mobil Bu Dokter.
Ia sering membandingkan Abang dengan Bu Dokter. Apalah artinya Abang dibanding Bu Dokter? Abang hanya seorang lelaki sederhana dengan penampilan biasa-biasa saja. Untuk ukuran desa pun Abang tak istimewa. Berbedalah dengan Bu Dokter yang necis, pintar dan pandai mengambil hati itu. Aih....andai saja Abang itu Bu Dokter dan dia ada di sampingnya di dalam mobil hard top itu, oalah...bagaimana rasanya ya?
***
Tapi khayal Uni bukan hanya sekedar lamunan. Suatu senja dirubung lebatnya hujan, saat Uni bergegas pulang dari ladang menenteng seikat ubi jalar dan berpayung daun keladi, hard top Bu Dokter menghampirinya. Uni tak sanggup menolak ajakan Bu Dokter untuk naik ke mobilnya. Malu dikesampingkannya. Bajunya basah kuyup, rumahnya masih jauh dan dingin menggigilkan tubuh. Tentu tawaran Bu Dokter tak sanggup ia sia-siakan.
Sepanjang jalan sibuknya Uni menahan debur jantung yang kian menggelora. Wajahnya ditundukkan dalam-dalam, sebab ia tak ingin Bu Dokter menangkap semu merah merona di pipinya. Setiba di depan rumah, basa-basi diajaknya Bu Dokter mampir. Eh, tak dinyana Bu Dokter bersedia. Malah, memayunginya dengan payung besar yang tersedia di hard-top marunnya. Badan mereka yang rapat satu sama lain di bawah payung membuat Uni bisa merasakan pancaran hangat tubuh perempuan yang diidolakannya itu. Harum aroma tembakau bercampur bau parfum berembus dari baju dinas Bu Dokter, memenuhi pori-pori hidungnya.Bu Dokter tak keberatan duduk di atas bale di amben, sambil menunggu Uni berganti pakaian.
“Randu ke mana?” tanya Bu Dokter, setengah berteriak di tengah deras hujan sebab Uni ada di ruang tengah merangkap dapur, menyiapkan teh panas sebagai pembalas budi.
“Oh, Randu lagi menginap di rumah neneknya. Nenek dan kakeknya merindukan dia. Jadi dia menginap dua malam di sana,” Uni muncul sambil membawa nampan berisikan teh panas dan sepiring ubi goreng. Uni terpesona melihat cara Bu Dokter duduk menyilangkan kaki serta keberadaan sebatang rokok di sela jemarinya.
“Maaf, saya merokok. Tidak apa-apa kan?”
“Oh, ya..tidak apa-apa,” Uni tergagap, menyadari bahwa ia sempat terbengong beberapa jenak.
Bu Dokter menyeruput teh panas buatannya dengan penuh nikmat. Ah, hati Uni melompat, seperti lepas dari keranjangnya. Aih, teh panas itu tentu tak ada apa-apanya dibanding susu coklat yang pernah dilihatnya di atas meja Bu Dokter di puskesmas.
“Hmmm...teh yang enak. Pakai jahe atau pandan?”
“Bukan, pakai daun delima. Enak?”
“Daun delima? Pantas...ini teh terenak yang pernah saya minum!” puji Bu Dokter dengan mata berbinar dan menatapnya dalam. Uni salah tingkah. Benarkah? Bukankah di Jakarta, tempat asal Bu Dokter ini, banyak ada minuman enak-enak?
Tapi hati Uni tak pelak melambung tinggi. Baru sekali ini ia mendapat pujian yang disampaikan penuh kejujuran dan pancaran mata yang hangat. Tak pernah sekali pun Abang memuji kopi atau teh buatannya. Abang cukup menyeruput minuman buatannya hingga habis, pertanda penghargaan atas jerih payah Uni. Selebihnya itu tidak ada. Tak ada kata atau decak nikmat keluar dari bibir lelaki pendiam itu. Beda sekali dengan Bu Dokter. Bu Dokter pandai memuji dan bercerita. Apa yang diucapnya selalu menarik Uni dan membuatnya mengerjap kagum. Aih, betapa bahagianya yang menjadi pasangan Bu Dokter. Setiap hari pasti terisi dengan waktu-waktu penuh bahagia dengan ceria tawa, canda serta ceritanya yang tak pernah habis.
Ketika petang berganti malam dan gelap awan telah diganti purnama ditingkahi jengkerik dan kodok, Bu Dokter pamit pulang. Hati Uni kembali dirundung sunyi. Inginnya dia memintanya menginap, tapi apalah arti rumahnya yang begitu sederhana. Pasti Bu Dokter tidak biasa tidur di kasur tipis miliknya. Saat perempuan itu telah pulang, ia menyimpan setiap detil bayangnya yang termuat dalam mimpi indah yang menghias tidurnya.
***
Hari demi hari berganti, diisi dengan ceria tawa Bu Dokter. Semua penduduk desa pun menyukainya. Dia seperti menghidupkan semangat perempuan yang telah datar sebab lelah menunggu kepulangan suami. Apalagi Uni. Hatinya selalu berbunga-bunga jika Bu Dokter menyempatkan diri mampir ke rumahnya. Entah untuk meminta dibuatkan pisang goreng, ubi atau jagung bakar, kukus ketan, dan tentu saja tak lupa minta disuguhi teh daun delima panas buatannya. Bu Dokter yang baik hati selalu memberi hadiah mainan buat Randu. Bertumpuk-tumpuk sudah hadiahnya di lemari, disimpannya rapi setelah dipakai bermain Randu. Ia kerap memarahi Randu jika sedikit saja didapatinya bagian mainannya yang copot atau tergores.
Tapi, kebahagiaannya teraniaya oleh gosip miring tentang Bu Dokter. “Bu Dokter itu pasti sakit!” kata Mimi, tetangga Uni, sewaktu meminjam penggiling tepung.
“Hah, sakit apa dia?” tanya Uni. Selama ini dilihatnya Bu Dokter begitu sehat.
Mimi mendekatkan mulutnya di dekat telinga Uni,”Dia menyukai perempuan!”
Hati Uni seketika dingin. Jadi? Tapi bukannya dia juga menyukai Bu Dokter? Apa bedanya? Apa salahnya? Namun di depan Mimi, si penggosip desa, Uni pura-pura tak acuh.
“Kok bisa tahu dia begitu?” pancingnya.
“Lha iyalah...kaya, pintar, penampilan necis, kok sampai sekarang belum menikah? Gayanya coba lihat, tak ada perempuannya dia! Manalah dia suka lelaki?”
“Oooh, itu anggapan kamu saja toh?”
“Bukan! Semua orang juga sudah mulai curiga dan saling berbisik. Kamu saja yang telat! Permisi, aku pulang dulu ya! Hati-hati loh..jangan terlalu dekat dengan dia....!!” Mimi berpesan sembari mengerjap penuh arti, kemudian menghilang dari pandangnya.
Jadi, dia harus bagaimana? Mengikuti kata hatinya? Atau, menjauhi Bu Dokter supaya tidak digosipkan para tetangga yang sudah mulai curiga? Uni bingung. Tapi, di dasar hatinya terus menggelegak rindu yang selalu menaut hatinya dengan bayang Bu Dokter....
***
Dua musim telah berlalu. Ini sudah di ujung musim kemarau. Mendung mulai menguasai langit dan rintik hujan sesekali turun membasahi ladang-ladang yang telah merindu air. Angin dingin kembali menusuk tulang dan Randu mulai menunjukkan gejala asmanya. Nafasnya kerap tersengal di malam hari dan Uni sibuk menggosokkan minyak kayu putih atau balsem di dada serta punggung anak itu.
Sejak gosip tak sedap menimpa Bu Dokter, Uni menghindari pertemuan rutin dengan dokter yang baik hati itu. Ia lebih banyak menyibukkan diri di ladang. Lagipula, harga cabai yang mahal membuatnya bersemangat bertani cabai, mengambil kesempatan yang jarang datangnya. Lumayan hasilnya, cukup buat hidupnya selama tiga bulan kedepan.
Uni berupaya mencari selamat dari gosip. Desa Langit Biru hanyalah desa kecil. Rahasia apa yang bisa disimpan di desa ini? Dinding kamar pun kerap bertelinga. Rahasia dalam kamar bisa menjadi rahasia desa. Lalu apanya yang bisa disebut rahasia? Ia tentu malu teramat sangat jika penduduk kampung menangkap keakrabannya dengan Bu Dokter. Waduh, bagaimana nasibnya jika menjadi bulan-bulanan gosip di kampung? Kasihan ibu dan ayahnya dan renta. Kasihan juga Randu. Sudah tidak ada ayahnya, sudah sakit, ibunya digosipkan berselingkuh dengan Bu Dokter. Kurang apalagi penderitaan anak itu?
Kambuhnya asma Randu pun tak membuatnya bergeming mengetuk pintu puskesmas untuk meminta obat atau resep buat kesembuhan Randu. Biarlah. Biarlah Randu diobati dengan cara tradisional saja. Dia pasti sembuh. Dia anak yang kuat seperti dirinya, seperti juga puluhan perempuan dan anak yang ditinggal merantau para lelaki di desa ini.
Tapi malam ini lain. Randu tersengal hebat dan badannya sangat panas. Sesekali ia kejang. Uni kalang kabut mengompres dahi anaknya, namun demam anaknya tak kunjung turun. Ditengah kebingungannya, Uni akhirnya menyerah. Tak apalah dia menanggung malu, lama menghindar dari kunjungan Bu Dokter, bahkan kerap ia bergegas menjauhi puskesmas agar tak berpapasan dengannya. Demi Randu, ia menabukan rasa malu. Dia menggendong Randu lalu setengah berlari menuju rumah dinas Bu Dokter yang tak begitu jauh dari pondoknya.
Seorang perempuan muda dengan mata setengah mengantuk membukakan pintu untuknya. Bu Dokter yang masih mengenakan celana pendek, dengan cekatan membaringkan Randu di kursi tamu lalu memeriksa suhu badan serta denyut jantungnya. Bu Dokter juga memberi sejenis obat untuk dihirup Randu. Syukurlah, setelah diberi obat Randu berangsur pulih. Dia tidak panas dan kejang lagi. Nafasnya pun telah teratur. Tapi Bu Dokter melarangnya membawa pulang Randu hingga matahari terbit. Ia pun menurut, lalu tanpa terasa ia terlelap menelungkup di sofa memeluk Randu.
Tak disadarinya matahari telah tinggi ketika kelopak matanya terbuka dari tidur yang lelap. Rasanya seperti mimpi, tatkala dilihatnya Bu Dokter dan teman perempuannya telah berpakaian rapi, sibuk memindah barang yang terpak ke dalam mobilnya. Ia juga baru tersadar sehelai selimut tebal menutupi tubuhnya di bagian belakang.
“Mbak Uni, selamat pagi,” sapa Bu Dokter ramah.
“Saya yang menyelimutimu semalam. Kasihan, Mbak Uni menggigil,” Bu Dokter berkata menjawab kebingungan yang tergambar di wajah Uni atas kehadiran selimut di tubuhnya.
Uni bangkit dari sofa dan melipat selimut yang melindunginya dari dingin angin semalam. Dilipatnya dengan rapi dan penuh kehati-hatian, untuk menyatakan rasa terima kasih yang terdalam pada Bu Dokter yang begitu baik dan perhatian padanya.
“Mbak Uni mencari Randu? Randu sudah baikan. Dia lagi duduk di dalam mobil. Mau menikmati mobil untuk terakhir kali, katanya,” Bu Dokter memberi penjelasan sewaktu dilihatnya Uni kebingungan mencari anaknya.
“Loh, memangnya Bu Dokter mau ke mana?”
“Saya mau balik ke Jakarta. Masa dinas saya di desa ini telah usai. Kenalkan, ini teman kuliah saya. Dia ini dokter yang ditempatkan di Kalimantan. Kebetulan lagi libur, jadi dia main ke sini.”
Perempuan cantik itu mengulurkan tangannya. Uni menyambut tangan perempuan itu. “Maya,” katanya menyebut nama.
Uni lalu menjemput Randu di mobil. Memintanya turun sebab Bu Dokter dan temannya sudah siap berangkat ke Jakarta. Kemudian ia memeluk bahu Randu berdiri di sebelah hard top yang terparkir di depan rumah dinas Bu Dokter. Setelah berbasa-basi sebentar, Bu Dokter bersiap naik ke mobil. Dia membuka pintu mobil untuk teman perempuannya, memegang tangan serta menatapnya mesra seraya berkata,”Hati-hati, Sayang.”
Sedih menyelinap dan menyayat hati Uni, mendapati Bu Dokter yang diam-diam dicintainya itu pergi ke kota dengan perempuan lain....
***
Beginilah keseluruhan dan akhir dari cerpen Cinta Dua Musim versi asli sebelum kami mengubahnya menjadi cerita bersambung.
Awalnya, karena cerpen ini agak panjang dan melihat kebiasaan sebagian pembaca yang lebih suka membaca di awal, tengah dan akhir cerita (happy atau unhappy), inyo mutilasi jadi dua bagian. Tak dinyana dan diluar dugaan kami, sambutan pembaca cerpen ini amat luar biasa terutama di FB. Sebagian besar pembaca mengharapkan akhir yang happy. Tentu kami amat bahagia dengan antusias sahabat-sahabat pembaca. Dan, kami merasa tertantang bagaimana "mengubah" unhappy ending menjadi happy ending.
Tidak mudah bagi kami mengubah akhir cerpen yang sudah jadi, karena kami harus merombak plot atau alur cerita. Kamipun amat serius dalam menyusun struktur cerita agar tetap realistis dekat dengan kehidupan kita sehari-hari meskipun ini hanya sebuah fiksi belaka. Oleh karena itu dari cerpen menjadi cerbung. Agar cerbung tidak jatuh menjadi drama ala sinetron (berlarut-larut) dan Nepen pun tidak kehilangan ikatan emosi dengan kisah ini, kami mendisplinkan diri untuk selesai sampai sesi ke-IV. Selain itu pula, terus terang kami kekurangan waktu untuk melanjutkan cerita ini. Mungkin sebab itu pula yang membuat kesan seakan-akan cerbung Cinta Dua Musim ke-IV terburu-buru untuk segera diakhiri. Tapi, percayalah kami membuat cerbung ini dengan kesungguhan hati demi pembaca dan sahabat-sahabat sinyo dan nepenthes. Yang mungkin tidak diketahui oleh pembaca adalah proses dibalik pembuatan cerbung ini, bagaimana seorang dokter Nadia eh sinyo kudu jungkir balik menjaga mood dan emosi Uni eh Nepenthes (sebagai penulis tunggal) agar tetap terjaga dan nyambung dengan plot cerita. :D
Terakhir, kami amat berterimakasih dan merasa sangat dihargai dengan sumbangsih kritik dan saran sahabat-sahabat pembaca baik di blog maupun di FB. Sebuah pelajaran yang amat berharga bagi kami yang justru mendapat support dari sahabat-sahabat pembaca agar kami melangkah lebih jauh lagi yakni "NOVEL" baik versi e-book dengan sistem penjualan ala indie maupun ke penerbitan. TABIK.
* Cerbung "Cinta Dua Musim" Desa Langit Biru
* Cerbung "Cinta Dua Musim" Uni dan Nadia
* Cerbung "Cinta Dua Musim" Dimanakah Kau, Uni?
* Cerbung "Cinta Dua Musim" Merenda Asa
langsung komeeen!!
BalasHapusJujur buatku cerpennya kok lebih ngena yah? Buatku keindahan sebuah cerita tidak ditentukan oleh happy/unhappy endingnya, tapi bagaimana cerita itu berproses membuat pembacanya bisa masuk ke dalam ceritanya. Justru dengan unhappy ending semacam ini buatku malah menjadi 'twist' dimana kita dari awal menebak-nebak "pasti nih uni sama bu dokter bisa jadian", tapi ternyata... "nggak dong, bwek...". lebih dekat ke realiti...
Hihihi... mungkin Nepen kemarin mengalami dilemma antara idealisme penulis dan tuntutan pasar yak? makanya merombak plot biar jadi happy ending :D Ga papa, kata penulis Clara Ng: Kisah cinta yang indah adalah kisah cinta yang nggak kesampaian... :D BTW, aku jadi pengen bikin fanfic-nya Bu Dokter dan Uni nih... >_<
Bybyq,
BalasHapuscerpen aslinya memang kelihatan lebih utuh karena dibuat pada saat sedang "mood" dan "lepas".
Sambungan-sambungannya dibuat disela-sela jadwalku yang rada "ngeri", jadi agak tergesa dan kurang dalem..
Endingnya memang sengaja dibuat hepi setelah kami menyadari, pembaca kekurangan bahan cerita bertema L yang berbau happy-ending. Kita ingin tampil beda dan memberi optimisme pada pembaca.
Mungkin aku memiliki prinsip berkebalikan dengan Clara Ng : kisah cinta yang indah adalah cinta yang kesampaian dan dinikmati sedalam-dalamnya...and it is possible!!!
(Nepen)
wuahhh.... aku lebih suka cerbungnya. krn buat aku, seperti kata mbak Nepen, kisah cinta yg indah adl cinta yang kesampaian, dan dinikmati sedalam mungkin:) krn aku membaca untuk membuat hatiku gembira, dan happy ending adl cerita yg selalu kucari.
BalasHapusthankss ya.. dah menjadikan cerpen ini jadi cerbung. cerbungnya ga kalah bagusnya koq. tetep menggoncang emosi :)
oohh...begini ini cerita aslinyaa..
BalasHapussaya suka si dgn kedua versinya baik cerpen maupun cerbungnya..
tapi kalau milih sih lebih berasa di cerpennya..
rasanya lebiiiiiiiih kenaa begitu...
nah nah, saya sih terserah mau happy apa engga akhirnya selama saya bisa menikmati kisahnya maka itu cukup bagi saya...
*singa
@Viana....suka yang happy ending seperti kisah cintamu yah...? hehehe...possible kan?
BalasHapus@Singa, emang yang di cerpen lebih rapi dan "megang" daripada di cerbung. Cuma di cerbung lebih ada nuansa petualangan yang bikin penasaran...ya gak?
(Nepen)
sukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.... semuanya suka deh, cerpen dan cerbung. Sering2 aj yaw bikin cerita, pasti aku akan jadi pembaca paling setia :D
BalasHapusHihi... kamu baik sekali deh, Nepen, sampe mau bersusah payah ganti ending demi membahagiakan yang lain :D. Lain kali bikin lagi dong cerpen yang emang daari awalnya happy end :) biar makin banyak cerpen2nya, terus dikumpulin... terus diterbitin...
BalasHapusMbak Nepeeeen...berhubung plot cerita berubah happy (Nadia bersama uni), pan si Maya na gak da yg punya, bagi ke aq donk.
BalasHapus:D
*psst...jgn ampe inyo tau ya,ntar tkt na inyo ksh tau Ntan pan jd gawat tu.
Khekhekhekhe
~Aleeeeeeeeeeeeeeev...siaaaaaaaaaaap bosssss....tapi mana cipokan nyaaaaaaaaaaaaa???? hehhehehe
BalasHapusbybyq, semua aku lakukan demi pembaca dan memberikan khazanah yang berbeda. Dan aku pun banyak belajar dari cerpen ini. next, aku akan konsisten dgn alur cerita xixixi
BalasHapusNepen
Silver, rahasia antar kita aja ya? xixixi
BalasHapus(Nepen)
cerpennya baguuus, tapi aku penganut aliran 'happy ending' sih, untuk cerita ataupun film. karena aku baca atau nonton film itu untuk cari hiburan, masa baca atau nonton yg sedih apalagi sampe bikin nangis, kan gak seru... kalau cari yg sad ending, liat aja realita lah, banyak ko.. hehehehe...
BalasHapusbut it's only my opinion lhoo... :D
eniwei, makasih ya udah dibuat cerbungnya yg happy ending.. ;)
~KrisCoooooooooooop...ohhh begenong tohhh??? hihihi...mangkanye kita juga sekalian belajar bijimane buat dari cerpen jadi cerita bersambung hingga jadi kembung benerannnnnnnn....wkkwkwkkwkwkw
BalasHapuseniwei, makasih juga dah setia membacanya... *cipok*
Neth suka semuuuuuuuuuuaaaaaaaaaaaa..... Semua neth sukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa ... xixixixi
BalasHapusMksih k nepen neth dpt ksmptan bc krya k nepen. Jgn lupain neth klonovel kk dah jadi ya???????? Yaaaaaaaaaaa?????????
*peyuk2 k nepen, jewer k nyonyooooooooooooo xixixi
Neth,
BalasHapusterima kasih udah sukaaaaaa....Pastilah Netha jadi inceran pertama kalo novelnya dah kelarrrr....hehehe (*peyuk-peyuk Nethaaa)
(Nepen)