Jumat, 11 Februari 2011

Cerbung "Cinta Dua Musim IV" -nepenthes-

Merenda Asa


“Aji, kamu harus menolongku! Please....” Nadia langsung menyerbu dengan kalimat-kalimat penuh pengharapan sewaktu dia berhasil menelpon Aji, sahabatnya sewaktu SMA. Hhhh....kenapa sewaktu dibutuhkan, Aji begitu susah dihubungi? Aji, lelaki dengan perawakan ala Ade Rai itu, sekarang bekerja sebagai intel di POLDA Metro Jaya. Meski berpenampilan sangar, tapi Aji adalah lelaki terbaik yang pernah ia kenal, tak sekali pun ia terlibat perkelahian atau mengusili teman-teman perempuan. Rambo yang hatinya Rinto...

“Iya, iya...Nadia Sayangku..aku pasti membantumu. Memang beberapa waktu lalu aku tahu ada beberapa agen TKI ditutup karena perijinan yang tidak jelas dan juga karena tidak memenuhi janji kepada tenaga kerja maupun kliennya. Tapi hhmmmm...coba aku minta tolong temanku yang mengurusi bagian ini, ya. Sekarang ini aku sedang ditugaskan di bagian narkoba. Pasti...pasti aku membantumu!” suara bariton Aji menenangkan hati Nadia. Ah, Aji...beribu terima kasihku padamu, bisik Nadia dalam hatinya.

Berhari-hari hingga berminggu-minggu Nadia setiap saat berhubungan dengan Aji, mencoba mendengar perkembangan terakhir dari sahabatnya itu, menunggu dengan harap-harap cemas mengenai kabar keberadaan Uni. Nadia tak henti berdoa, tahajud ditengah malam, memintakan keselamatan perempuan yang dicintainya itu. Seandainya saja...seumpamanya saja, kalau saja...ah berbagai pengandaian menyesaki dadanya. Ya, kalau saja ia berani menyatakan perasaannya kala itu kepada Uni, ia pasti akan mengajak Uni dan Randu ke Jakarta. Uni bisa berjualan di depan rumah kontrakannya atau usaha apalah. Tidak perlu sampai begini, tak usah ia jauh-jauh mengais rejeki negeri gurun pasir....Tidak, ia tidak di gurun..dia mungkin di Indonesia, tapi di Indonesia bagian mana? Entah tersesat di Batam atau di Bintan, atau bahkan di Jakarta sini. Terperosok di dunia hiburan malam? Nadia bergidik, bercampur geram pada kejahatan oknum yang berkedok agen TKI!

Hingga suatu hari, di tengah kesibukan Nadia praktek sebagai Residen di bangsal anak, tiba-tiba diterimanya telepon Aji,”Nad...ada temanku berhasil menelusuri jejak pengiriman uang Si Uni, familimu itu! Uang itu dikirim melalui kurir ekspedisi lokal. Pengirimnya seorang perempuan beralamat di Jl. Natura, nomor XX, Bekasi. Kalau ada waktu, yuk kita ke sana!”

Waduh, Nadia langsung gemetar saking gembiranya. Seperti ada lampu menerangi wajahnya yang selama ini muram. Nadia langsung minta ijin pada kepala bangsal untuk mengurus keluarga. Ia bergegas mengganti seragamnya dengan setelan kaus dan jins.

Ditemuinya Aji di depan sebuah mall, lalu mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju alamat yang diberikan oleh teman Aji. Selama hampir tiga jam perjalanan yang dipenuhi macet dan jalan memutar karena ada iring-iringan kampanye pemilihan Gubernur DKI, mereka akhirnya sampai di sebuah rumah mewah di daerah Bekasi. Seekor anjing golden menyambut mereka di gerbang dengan gonggongan tak bersahabat. Setelah cukup lama menekan bel, akhirnya seorang perempuan paruh baya datang tergopoh-gopoh membuka pintu.

“Ada perlu apa ya, Pak?” tanya perempuan itu, dari balik pintu pagar dan background suara anjing yang belum menurunkan frekwensi gonggongannya.

“Bu, kami lagi mencari Ibu Siti Seruni atau Ibu Uni. Apakah dia tinggal di sini?” tanya Aji sopan.

“Siti? Dia mungkin ya...orangnya masih muda kan?”

“Ya, Bu...masih muda, sekitar 30an tahun, rambutnya ikal, kulitnya putih?” Nadia mencoba mengingatkan perempuan itu.

“Oh, iya...Siti..pasti Siti. Iya, dia pernah tinggal di sini jadi baby sitter. Tapi udah lima bulan lalu tidak lagi bekerja di sini, karena katanya dapat pekerjaan yang lebih bagus di tempat lain.”

Nadia langsung kecewa.Uni, ya ampuuunn...ke mana lagi sih dia?! “Ibu masih kontak dengan dia? Punya nomor teleponnya, barangkali?”

Perempuan itu menggeleng. “Itulah, Mbak...Siti suka mengganti nomornya. Katanya sih biar dapat promo atau diskon, begitu.”

“Kapan terakhir Ibu bertemu atau menelepon dia?”

“Mungkin sekitar tiga bulan lalu. Katanya sih dia kerja di sebuah klinik bersalin masih di daerah Bekasi sini.”

Setelah berterima kasih, Nadia dan Aji meninggalkan perempuan itu. Meski belum bisa bertemu Uni, paling tidak Nadia masih bisa bernapas lega karena Uni bekerja di “tempat baik-baik”. Apalagi dia sudah memiliki gambaran Uni bekerja di klinik bersalin, yah...masih area Nadia juga. Duh, Uni...Uni...susah sekali sih mencarimu?

***

Mencari alamat klinik bersalin itu ternyata tidak semudah menjentikkan jari. Nadia mesti mengerahkan seluruh jaringan teman dokternya yang mengetahui info nama-nama klinik bersalin di daerah Bekasi. Bahkan, Nadia tak segan mendatangi pejabat Dinas Kesehatan yang mewilayahi daerah Bekasi untuk mencari data-datanya. Hampir sekitar 50 klinik dan rumah sakit bersalin ia kunjungi bersama Aji, hingga di hampir penghujung asanya ia akhirnya mencapai titik terang.

Seorang satpam sebuah klinik bersalin mewah, memberinya petunjuk mengenai seorang pegawai outsourcing cleaning service yang memiliki ciri-ciri seperti Uni. Hhhhhhhffff...pantas saja ia tidak menemukan nama pegawai dalam daftar personalia rumah sakit atau klinik bersalin...lha wongSi Uni bekerja di perusahaan outsourcingnya!

Dengan berbekal secarik alamat perusahaan outsourcing itu, akhirnya Nadia melanjutkan pencariannya. Syukurlah, perusahaan outsourcing itu tidak terlalu susah untuk ditemukan di jalan utama kota Bekasi. Ditilik dari bangunan fisiknya pun kantor ini cukup bonafid. Mudah-mudahan saja memang benar Uni bekerja di sini. Paling tidak, Nadia bisa bernafas lega bahwa kondisi tidak seburuk bayangan yang selama ini menghantuinya.

Setelah menembus birokrasi kantor dan dengan bantuan Aji, Nadia akhirnya bisa meyakinkan Kepala Personalia agar dia bisa mengakses data karyawan perusahaan outsourcing itu. Hati Nadia melompat gembira ketika didapatinya nama Siti Seruni berada di salah satu nama karyawan di sana, lengkap dengan alamat rumah kos dan nomor HP. Uni, Uni...akhirnya aku bisa menemukanmu juga!
Sesudah berpamitan dan mengucapkan terima kasih, Nadia bergegas memutar nomor HP Uni.

“Assalamualaikum....” terdengar suara merdu Uni di seberang. Uni, Uni..kamukah itu...rasanya seperti mimpi!

“Assalamualaikum, Uni....ini Nadia....!” suara Nadia setengah berteriak, antara gembira dan tak percaya akhirnya ia bisa menemukan Uni.

“Nadia...siapa?” Masya Allah, Uni....!!! Susah payah aku mencarimu, kenapa kamu lupakan aku? Nadia gemas. Tapi dia baru sadar kalau selama ini ia lebih dikenal sebagai “Bu Dokter”. Pertemuan mereka terakhir sudah lebih dari dua tahun lalu.

“Ini aku, Bu Dokter di puskesmas yang merawat Randu...ingat?” Nadia memberondong ingatan Uni dengan berbagai peristiwa di kampung dulu. Duh, Uni....tahukah aku begitu merindu dan mengkhawatirkanmu?

“Oh, maaf...Bu Dokter, ya? Masya Allah! Kok bisa dapat nomor telepon saya, Bu?”

“Uni...panjang ceritanya. Lebih baik aku bertemu denganmu. Bisa kan?”

Akhirnya, Uni dan Nadia berjanji akan bertemu di suatu tempat keesokan harinya karena hari sudah mulai petang. Apalagi Uni baru pulang kerja, jadi masih kelelahan. Nadia begitu bahagia. Senyumnya sumringah menggambarkan kegembiraan luar biasa. Dipeluknya Aji berkali-kali, sahabatnya yang begitu setia menemani pencarian Uni selama ini. Aji, dengan apa aku harus membayar budimu? Dan Uni, aku sudah tak sabar bertemu kamu.....

***

Senja menelan separuh mentari di cakrawala. Nadia dan Uni duduk di sebuah restaurant di tepi pantai. Tekun Nadia mendengar kisah panjang Uni, sejak kepergiannya dari kampung menjadi calon TKI hingga terdampar di Bekasi. Sesekali ditatapnya hangat mata Uni dengan diiringi senyum mesra yang membuat Uni gelagapan.

“Jadi, ceritanya Uni batal berangkat ke Arab karena ada masalah dokumen?” Nadia mencubit secuil ikan bakar dan mencelupkannya ke piring sambal, lalu menikmatinya dengan sekepal nasi.

“Ya, begitulah Bu Dokter...Saya tidak mengerti, apanya yang kurang. Teman-teman lain dari kampung ada yang sudah berangkat, sedangkan saya tertahan di Jakarta karena ada surat-surat yang kurang.”

“Hush...sudah kukatakan berkali-kali, panggil saja aku Nadia...!”

“Eh, iya...Bu Nadia...”

“Tapi kamu malah memutuskan tetap tinggal di Jakarta sembari mencari Abang?”

“Benar. Saya malu pulang kampung. Terlanjur berangkat, ya sudahlah..saya cari kerja di Jakarta sambil mencari kabar Abang. Lagipula, sawah dan kebun sudah dijual untuk biaya keberangkatan saya. Kalaupun pulang, tidak ada yang bisa saya kerjakan di kampung. Kebetulan ada teman yang membantu mencarikan pekerjaan. Tapi saya tidak memberitahu Abah dan Emak. Mereka pikir saya ke Arab. Kasihan kalau diberitahu saya batal berangkat. Mereka pasti sedih karena harta benda sudah habis.”

“Akhirnya berjumpa dengan Abang?”

Uni mengangguk, namun air mata tiba-tiba menyusup di sela bulu-bulu matanya yang lentik. “Ya, saya bertemu Abang. Tapi sayang...Abang ternyata sudah punya istri lain di sini, yang ia nikahi secara siri...” Isak tangis Uni menghentikan aktivitas makannya.

Nadia menyorongkan tisu dan menggenggam tangan Uni erat, seolah bisa merasakan remuk yang merajam hati Uni. Dielus-elusnya punggung tangan Uni, untuk menenangkan hati perempuan yang dikasihinya itu. Begitulah resiko long distance, apalagi untuk laki-laki muda seperti suami Uni, tentu tak mudah hidup sendiri di Jakarta tanpa ada yang menemani.

“Jadi....???”

“Ya, saya akan menuntut Abang cerai setelah Lebaran ini. Rencananya, saya mau pulang kampung Lebaran, kemudian mengurus perceraian. Setelahnya, saya mau ajak Randu ke Bekasi, biar dekat dengan saya. Sepertinya, saya cocok di sini. Teman-teman kerja dan tetangga pada baik semua.”

“Yah, diambil hikmahnya aja, Uni...Pilih yang terbaik saja. Kalau mau tinggal di rumah kontrakan saya juga boleh...” spontan Nadia menawarkan bantuan. Entah dari mana ide itu muncul. Meluncur begitu saja dari mulutnya.

Uni mengerjap tak percaya. Tapi terlihat ada cahaya gembira terpancar di wajahnya. “Aduh, saya merepotkan Bu Nadia terus...Jadi malu...”

“Ah, tak apalah Uni. Semampu saya, pasti saya akan menolong. Yuk, dihabiskan makannya,” Nadia mengambilkan makanan kemudian diletakkannya di piring Uni. Uni jadi rikuh begitu dimanjakan Nadia. Sudah lama ia berusaha mengobati luka hatinya dengan mengganti bayang-bayang Abang dengan sosok Bu Dokter. Tapi apalah ia...mungkin itu cuma khayalan yang membuai, sehingga Uni selalu berusaha terjaga meski ia sering dimimpi khayalnya.

Senja berganti malam. Gulita mulai menyelimuti langit, ketika Nadia dan Uni berjalan-jalan di pesisir menikmati udara dan menghirup wangi garam di sepanjang pantai. Sesekali ombak membasahi kaki Nadia dan Uni yang dibiarkan telanjang tanpa alas. Perlahan, Nadia menggapai tangan Uni. Uni merunduk malu dan membiarkan Nadia menggenggam tangannya erat. Hangat menyusup di dada kedua perempuan itu.

Di dekat rerimbunan pohon yang agak tersembunyi, Nadia membalik tubuh Uni dengan lembut sehingga mereka berhadapan. “Boleh aku cium kamu?”

Uni tak menjawab, tapi matanya yang memejam rapat seolah memberi isyarat kepasrahan dan hasrat yang sama. Perlahan, Nadia memegang dagu Uni, kemudian mencium kening, lalu meluncur ke bawah hingga ke bibirnya. Awalnya Uni tidak merespon, tapi kemudian desah lembutnya terdengar dari mulutnya. Cukup lama mereka berpagutan, lalu Nadia memeluk Uni erat seolah tak mau lagi kehilangan perempuan yang dikasihinya itu.

“Hari sudah malam. Yuk, kita pulang. Hmmm...mungkin sebaiknya kamu menginap di rumahku saja?” Nadia berkata sembari mencium punggung tangan Uni.

Uni mengangguk. Rasa malunya seolah terbang entah ke mana. Tidak ada lagi ditemuinya Bu Dokter, tetapi Nadia, yang kini telah menjadi kekasih hatinya. Bawalah aku, ke mana pun kau pergi, Nadia...

Bergandeng tangan mereka melangkah menuju hard-top merah yang diparkir Nadia di pinggir jalan. Rasa bahagia memenuhi rongga dada keduanya, merenda asa yang baru saja terajut....

- T A M A T -

*Ukhhhhh, akhirnya dengan amat sangat menyesal kami akhiri juga neh cerpen yang sudah buat kembung penulisnya. hehehe...
Ditunggu loh sawerannyaaaaaaa.... hihihi :))
Terimakasih banget buat pembaca dan sahabat-sahabat sinyoijo yang sudi membaca dan mengapresiasi cerbung "Cinta Dua Musim". Mudahan cerbung "Cinta Dua Musim" ini dapat menghibur dan menambah sedikit pengetahuan kita dalam menulis cerpen maupun cerbung. Kami amat menanti dan menghargai kritik dan saran pembaca dan sahabat-sahabat sinyoijo.

*Cerbung "Cinta Dua Musim (I)", Desa Langit Biru
*Cerbung "Cinta Dua Musim (II)", Uni dan Nadia
*Cerbung "Cinta Dua Musim (III)", Dimanakah Kau, Uni?



48 comments:

  1. Horeee
    Akhirnya happy ending ^_^
    Terimakasih Mbak Nephen mau meneruskan Cinta Dua Musim
    Yg tadinya cerpen jadi cerbung
    hehehehe
    Kalau mau dilanjutin Season ke 2, aku akan menyambutnya dengan sukacita

    -Tweet

    BalasHapus
  2. akhirnyaaaaaaa..........#terharu...

    aduhh..endingnya bagus, be berharap di buat sekuelnya...hihihihi...

    BalasHapus
  3. ahhh.. legaaa... akhirnya happy :))
    kalo kritik kayaknya ga ada suhu. dah mantap ceritanya. mungkin sedikit saran ya, minggu depan munculin cerbung baru lg yaa..hihihi *ngarep.com*

    BalasHapus
  4. whuaaaaahhhh...................
    Maaaaaaaaaaaaaaakk Nyoooooooooosss den end mbak nephen cerita na.
    thanks yah dh bagi2 cerita yg menghiburrrrr.....
    ttp berkarya ya mbak nephen n den inyooo...

    BalasHapus
  5. hadeuh finally...
    Mantap pisan ini cerbungnya...jadi ikutan ngos2an gara2 bu dokter nyari uni.
    Dan ditutup oleh kissing wah wah happy ending.
    Kirain bakalan sad ending.
    Selamat yah bu dokter!

    -dree-

    BalasHapus
  6. akhirnya....
    lega bgt stlah bolak blik dimari ngcek ad pa blm smbungannya...
    mksih ya mba nepen....:)

    Den inyo sawerannya nunggu sesion slnjutnya yak...hehhehe

    Nmny eL

    BalasHapus
  7. Lho? kok udahan? aaaa.... happy end yaak...

    BalasHapus
  8. ~Tweeeeeeeeeeet... haiyaaaaaaaaah...penulisnya dah kurus kering tuh terkuras emosi dan pikirannya ke cerbung nyang bikin kembung ini... hehehe :))
    istirahat dulu laaaaaaaaah...sambil nghayal lagi hihihi :D makasih Tweet *cipok*

    BalasHapus
  9. ~Beeeeeeeeeeeeeeeee... wuhahuuuuuuuuuuuuuuu...inyo jg terharuuu ama nih cerpen, aslinya unhappy !!!! huahuuuuuuuuuuuu...hiksss hikssss :(( jiahahahahahahahahah

    BalasHapus
  10. ~Viana, viana kekasih dukun togel.... boleehhh aja minggu depan ada cerbung baru, tapi boleh tak kedua tokohnya, Viana ama dukun togel???? jiahahahahahahhahahaha

    BalasHapus
  11. ~Ntaaaaaaaaaaaaaaan...mudah2an kami masih diberi energi yang berlimpah untuk berkarya lebih baik lagi....ckcck (aneh ya komeng inyo kali ini??? ) jiahahahahahahahahhaha thanks Ntaaaannn *cipok*

    BalasHapus
  12. ~dreeeeeeeeeeeeee...loh...aslinya itu sad eding taukkkkk???? berhubung pembaca mintanya happy ending, dan demi teman2 sinyo ijo, nepen pontang panting merubah plot cerita....heheheheh :))
    thanks dreeeeeeeeeee... *cipok uni* hahahahahhaha

    BalasHapus
  13. ~Nmny eL... wuaaaaahhhh ga acihhhh tuhhh...bijimane seh neh penonton???? wkwkwkwkwkkwkwk thanks dreeeee *cipok*

    BalasHapus
  14. ~bybyyyyyyyyyyyyyq...loh??? loh??? kenapa?? kamu kuciwa dgn endingnya???? mau baca yg aslinya ga???? *siap2 tumpukan kolor biar ga ditimpuk massa anarkis* jiahahahahahahhahahaha

    BalasHapus
  15. wowwwwwwww.. happy ending :D alhamdulillah *akhirnya bisa bernafas lega (*_*)
    den inyooo.. keren euy *cipok :D

    BalasHapus
  16. seneng-na..
    Happy ending.
    G sbr nunggu cerbung2 laen-na.. :)

    -FemmeNaShun-

    BalasHapus
  17. hihihi, seru pas adegan kissingnya...
    :))
    happy ending...


    kolonel bikin lagi yahh cerbung yang lain....

    BalasHapus
  18. aku pinginnya lebih panjang.. lebih detail... maksudku... kan intronya tentang uni dan bu dokter kan udah detail banget... tapi endingnya cepet banget. hehehe
    bawel yah? Maklum, aku suka banget ceritanya, jadi perhatian sama detailnya.

    Mosok sih kecewa? Nggak lah. Aku memang bukan fans happy ending story, tapi aku suka kooook.... *hug*

    BalasHapus
  19. Den inyooooooo.........
    Usul ne lain kali buat cerbung yg horrorending.
    Misal na 'nadia berhasil menemukan uni dan nadia sungguh terkejut karena uang yg dikrm uni ke kampung ternyata hasil dari ngepet. Tapi krn cinta akhir na nadia memutuskan utk jaga lilin dan uni yg ngebet.'

    khekhekhekhekhe

    BalasHapus
  20. ~Aleeeeeeeeeeeeev...kalo tau, tak mutilasi lagi neh cerbung, biar Aleeeeeeeeeeeev sesak nafaaaaaaaaaaaaa n kesempatan inyo bikin nafas buataaaaaaaaaaaan....jiahahahhahahahahha

    BalasHapus
  21. ~Femmeeeeeeeeeeeee...ihhh senang yak kalo happy ending??? kalo femme tau original cerpen ini seperti apa akhirnya, ntar minggu depan kita posting yaaaaa... *nangis dehhh* hihihi :))

    BalasHapus
  22. ~Jendral De Frozzzzzzzzzzz...ihhhh tergantung apa nyang digantung nepen sbagai penulisnyaaaaaaaaa yoooooooo.... *cipok* wuahahahahhahaha

    BalasHapus
  23. ~bybyyyyyyyyyyyyyyq...begini ya byq, awalnya ini adalah cerpen, karena kepanjangan (dan biasanya pembaca suka baca di awal, tengah dan akhir/ending) inyo bagi dua. dan ternyata sambutan pembaca dan sahabat2 baik di blog maupun di fb sungguh diluar dugaan kami. dan sebagian besar meminta ending yang happy. terus terang kami jadi semangat ntuk menjadikan cerpen ini bersambung. tapi, kami juga tdk mau cerbung ini menjadi drama ala sinetron. kami sepakat dan mendisplinkan diri agar cerbung ini selesai di sess ke IV. Nepen pontang panting dengan senang hati untuk merubah plot atau alur cerita agar terlihat logis/realistis meski ini fiksi. Ntar deh kami akan posting aslinya nih cerbung seperti apa. dan, betul kata bybyq ending cerbung ini terlalu cepat. yaaa itu tadi kami tak mau berlama2 membuat pembaca jadi kembung....hehehhee.... makasih byq ntuk komennya. sebuah saran yang akan jd masukan berharga bagi kami. *cipok*

    BalasHapus
  24. ~Silveeeeeeeeeeeeeer...wuaaaahhhh Silver mantan dukun takkkkk???? jiahahahahhahaha drpd ngepet mending cipokan ajaaaaaa Verrrrrrrrrrrrr.... wkwkwkwkwkkwkwkwkkwkw

    BalasHapus
  25. Siap2 tmehek2 dch..
    Dtgg fersi asli-na..
    :)

    -FemmeNaShun-

    BalasHapus
  26. Lhoooooooooooo????? kok tamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat??????? g trimaaaaa g trmaaaaaaaaaaaaaaa!!!! Lom puas ma bu dokterrrrrrrrrrrrrrrrrrrr.... iiiiiiiiiiiiiih jewer k nyonyoooooooooooooo!!!! cipok k nepeeeeeeeeeeeeeeen....... kin lgi y k?????? xixixixixi

    BalasHapus
  27. baru bacaa... hiks, telat berapa hari nih :(
    tapi seneeeng, akhirnya happy ending, yaayy... *joget pisang*
    eh di rumah bu dokter mereka ngapain? bisa diterusin ga ceritanya? *request mode on* wkwkwk...
    ditunggu cerita selanjutnyaa... gutjaab buat nephen n inyooo... mmuach! ;)

    BalasHapus
  28. asiik... kalo ada versi panjangnya, bersambung atau langsung tancap ala novelet mari mari kirim pdf nya ke bybyq (kalo ga mau .doc nya kucolong, dan kukirim ke penerbit). Aku suka baca, jadi aku senang baca berpanjang2 :D

    *cipok balik*

    makasih yah inyo sama nepen nggak marah kukomenin kaya gitu...

    BalasHapus
  29. ~Femmeeeeeeeeeeeeeee...okeeeee siap siap g-string nyaaaaaa yaaaaaaa....hehehe

    BalasHapus
  30. ~Arnethaaaaaaaaaaaaaaaa....wuiiihhh asyikkkk dicipok juga akhirnyaaa ama arneth....wkwkwkwkkwkwkwkwk

    BalasHapus
  31. ~Kriscooooooop...hayaaahhh pake imajinasi kamu laaahhhhhh....jiahahahahhaha *cipok balik* hehehehehehehe

    BalasHapus
  32. ~bybyyyyyyyyyyyyq...silahkannnn..monggo byqqqqqqqqqqqqq...dgn diapresiasi seperti bybyq gini aja, kami dah berbunga-bungaaaaaaa bahagiaaaaaaaaaaa...
    ke depan, dengan dukungan beberapa sahabat dan pembaca, kami ada kemungkinan membuat novel (kali ini lbh serius) yang mungkin penjualannya secara indie. mungkin formatnya kek e-book dan dijual melalui jaringan pertemanan aja. doa kan ya byyyyyyyyyyyyyyyq...
    btw, jangan lupa yaaaa, jumat or sabtu ini kami akan posting versi asli cinta dua musim sebelum dijadikan cerbung, mohon dgn amat sangat sumbangsih kritiknyaaaaaaaaaaaaa... kqkqkqkkqkqkq

    BalasHapus
  33. bybyq,
    trims ya komentarnya yang "menggigit". Keliatannya serius banget neh ama cerita Bu Dokter dan Uni? hehehehe

    Masalah intro yang panjang dan detil, karena itu adalah bagian asli cerpen atau badan utamanya. Kemudian, kita menambah panjang dan berganti plot, jadi agak ngos-ngosan ditambah lagi aku punya waktu yang sangat sangat terbatas (la wong ketemu Inyo aja susah minta ampuuuunnnnnnn). Jadi mohon maaf ya kalau agak mengecewakan di bagian akhir. Keliatan tidak rapi dan detail yah?
    Untuk rencana buat novel, mudah-mudahan ada waktu, energi dan ide kreatif. Kami sedang merencanakannya dengan serius...(tunggu aja ya!)

    (Nepen)

    BalasHapus
  34. Buat Kak Nepen, mantap :) walaupun memang terkesan terburu-buru dibagian akhirnya, tapi tetap tidak mengurangi apa-apa yang ingin disampaikan. Aku banyak mengambil beberapa hal penting dari cerbung ini, yakni tentang cinta yang tidak terduga, tentang penantian yang sia-sia(saat kedapatan suami Uni menikah lagi), tentang sosial (mengenai masalah TKI), tentang sosok pria yang tanpa atau disadari ternyata masih dibutuhkan keberadaannya, dan tentang sebuah usaha yang begitu keras untuk meraih cinta yang sebelumnya diragukan. Dan semua itu tersaji sangat apik walaupun diketerbatasan waktu yang Kak Nepen miliki. Tetap menulis Kak Nepen, karena semua begitu menginspirasi.

    Babby Est Chan

    BalasHapus
  35. Dear Babby,

    thanks komentarnya yang membuatku haru. Aku gak pernah mikir kalo cerita bisa memberi manfaat buat kamu (dan mudah-mudahan yang lainnya). Awalnya, alasan utama untuk buat karena dijengahin ma Inyo aja....(aku suka ngembo soal bakal buatin dia cerpen). Apesnya, Inyo bak melebihi seorang debt collector, suka sekali menagih janjiku....hihihihi....

    Babby dan teman-teman lain, tentu aku bakal menulis terus karena ada panggilan jiwa selain juga suka dijengah-jengahin Inyo....Mungkin dalam bentuk lain ya...

    (Nepen)

    BalasHapus
  36. Setelah membaca semua kisahnya, ternyata gak sia-sia... Kereeeeeeeennn... :)
    *duwa jempol* buat Nepen
    *tiga jari* buat inyooooooooo... hihihii

    BalasHapus
  37. ~IyHaaaaaaaaaaaaaaahhhh... loh??? dah pulang meratau tohhhhh???? jiahahahaahhahahah
    Nepen mang pantas dapet jempol, kalo inyo dapet pentungan aja masih bagooooooooooooooooossss tak yeeeeee????? jiahahahahahahhaha
    makasih sista Iyhaaaaaaaaaaaaaaahhahahhaha *cipok*

    BalasHapus
  38. Yha....dua jempolll? Gak muat nahhh....hehehe...makasih ya!

    (Nepen)

    BalasHapus
  39. @Inyo
    asik dapet Cinta Dua Musim versi UNCUT. Hihihi... kalo e-booknya udah keluar kasih tau yah :) Abis indie.. terus kirim ke penerbit yah, Inyoo?

    @Nepen
    Maap kalo tergigit yaah... iya nih aku serius banget sama Bu Dokter dan Uni... romansanya bikin deg deg ser... hihii...
    OOh... pantesan, soalnya detail ceritanya keliatan agak beda yang bagian awal dan akhir ceritanya...

    BalasHapus
  40. ~bybyyyyyyyyyyyq...bentar lagi kami posting Cinta Dua Musim versi uncut nya.
    Ntuk e-book, mudahan kami segera mengerjakannya dan pasti bybyq akan kami beritahu.
    Untuk ke penerbit, kami akan lihat dulu perkembangan sistem indie, jika cukup amunisinya tentu kami akan melangkah ke penerbit. Mohon doa restunyaaaaaaaaaaaaa... hehehehe *cipok*

    BalasHapus
  41. cerpennya bagus, jempol dah. like this!
    bikin lagi ya sinyo
    n request = fatamorgana bu dokternya dilamain durasinya..he3

    okta

    BalasHapus
  42. ~Oktaaaaaaaa...lagi tarik nafas nehhh stlah terkuras selama sebulan buat cerbung hehehhehe...
    eh??? koq pada suka ama bu dokternya sihhhh???? cool yakkkk???? wkwkwkwkkwkwkwkkwkwkkwkw

    BalasHapus
  43. ceritanya bagus....pengen tau kelanjutan perjalanan cinta bu dokter dg uni setelah bertemu.


    -DeWi-

    BalasHapus
  44. ~DeWiiiiiiiiiiiiiii.... ihhh keknya kisah bu dokter bertemu Uni cukup sampe di situ dehhhh...kalo dilanjutkeun bisa jadi sinetron "Lesbian Yang Tertukar" kwkwkwkwkwkwkwkkwkwkwkwkkwkwkwkwkkwkwkwk
    Makasih ya DeWiiiiiiiiiiiiiiii.... *cipok*

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah ngambil settingnya di bekasi^^
      hhaaa,,senangnyaa,,

      by.aF

      Hapus
    2. ~Afiaaaaaaaaaaah.... Untuk Bekasi, se-khayal2nya Nepen tuh cari lokasi...hehehehehe :))

      Hapus
    3. khayalannya tingkat tinggi yah,,
      d sini juda ada RS jatimulya loh
      serba kebetulan atau,,,???

      Hapus
    4. ~Afiaaaaaah... gini ya, kalau kita bikin cerita dgn latar belakang kota yg belon pernah kita kunjungi kita bisa minta teman yg kebetulan tinggal disana ini namanya riset. riset tdk selalu survey lgsung. kbegitu pula cerpen Ai, cinta pertamaku itu kan latar blkang wilayahnya adalah kalimantan yang nepen sama sekali blm pernah bertandang. Nepen dpt infonya dari saya. begitu Afiaaaaaaahhh... hehehe

      Hapus

hati hati keinjek pupuk kandang, ya...