Jumat, 04 Februari 2011

Cerbung "Cinta Dua Musim (III)" -nepenthes-

Dimanakah kau, Uni ?

Dibawah temaram purnama dan lembut alunan Kenny G, Nadia memagut sepi dibalik kaca rumah kontrakannya. Sapuan awan hitam yang mulai menutupi bulan, perlahan menitikkan air hujan, membasahi jendela. Mengembunkan ingatan Nadia pada sosok Randu dan paras ayu ibunya. Rambutnya yang hitam ikal berjuntai melengkapi wajahnya berhiaskan sepasang mata besar bundar namun sayu, hidung bangir dan bibir yang aduhai seksi. Memandang Uni, selalu mengingatkannya pada sebutir apel Malang berwarna hijau segar yang crunchy. Menggoda, menggiurkan, merayu, seolah menawarkan untuk dicicipi, hingga Nadia menelantarkan niatnya untuk ‘selibat’. Ah, Uni...jika saja dia tumbuh dan besar di kota, dia pasti ikut kontes None-None Betawi. Udara dingin pegunungan memerahkan pipinya meski tanpa rounge, menyegarkan kulitnya meski tanpa hand-body lotion, tampilan alami tanpa pulasan, yang justru memabukkan. Kepolosan dan kesederhanaan Uni, justru menyentuh hasrat Nadia hingga menyusup ke sarang-sarang liar khayalnya...

“Biarkan aku mengajarimu bercinta,” bisik Nadia mesra, sembari menyusupkan lidahnya di sela-sela telinga Uni. Uni menunduk tersipu, merona, menatapnya meronta, dahaga yang terlampau ditahan. Tepi bibir Nadia mulai merayapi tepi bibir Uni. Awalnya, bibir Uni terkatup ratap beku, tapi kemudian membuka dan membiarkan lidah Nadia menyusup di sela-sela ranum bibirnya. Desahnya tak lagi menutupi rasa malu yang menggumpal di sudut-sudut gelap hatinya.

“Bu Dokter...ahhh...”erangnya manja, dengan kedua tangan melekat pada lengan kukuh Nadia.

“Aku bukan lagi Bu Dokter. Aku Nadia, kekasihmu....” lembut Nadia berkata, sembari tangannya satu per satu membuka kancing baju Uni. Desah Uni yang kian kencang meyakinkan Nadia kalau Uni betul-betul membutuhkannya. Lalu, diciumnya dua bukit kembar Uni yang membusung dan Uni membelai rambut Nadia dengan halus. Sementara, tangan Nadia yang lain liar meremas bagian bawah Uni, sembari membuka sehelai demi sehelai kain penutupnya. Mata Uni tertutup rapat, menikmati setiap detik permainan cinta Nadia. Lalu perlahan Nadia menuntun Uni ke peraduan. Diiringi lembut alunan orkestra Yanni, mereka berdua menuntaskan episode yang memabukkan, kemudian terkapar penuh rasa kebahagiaan.

Nadia menepuk pipinya sendiri. Ah, fatamorgana yang tak akan pernah terjadi! Ia menggerutu sembari menyalakan sebatang A-mild merah dan meneguk bir. Khayalan demi khayalan mengenai Uni kerap menggoda di sela-sela kesendiriannya. Uni, terbukakah hatimu untukku?

***

Empat musim telah berlalu, saat Nadia kembali menghirup udara segar di sepanjang jalan desa Langit Biru, rehat setelah ujian akhir semester di bagian pediatri yang melelahkan. Berdekatan dengan anak-anak, selalu membelah ingatannya pada Randu. Sebesar apa anak itu sekarang?

Hatinya begitu gembira saat didapatinya Randu tengah bermain di halaman SD Inpres, mengenakan seragam pramuka. Baru saja masuk SD, kata Pak Danang, kakek yang bersiap menjemputnya di pinggir pagar sekolah. Dia tampak gempal dan sehat. Ah, tak dilihatnya lagi Randu kurus dengan nafas tersengal.

“Tidak kumat lagi asmanya?”

“Yah, kadang-kadang kumat juga, Bu Dokter. Syukurlah, dia lebih jarang sakit. Apalagi setelah ditinggal ibunya bekerja di Arab...”

“Arab? Ibunya Randu bekerja di sana, Pak?” Nadia terkejut, sekaligus juga kecewa. Dia khusus datang ke desa Langit Biru untuk beristirahat di rumah dinas Maya, sahabatnya, sekaligus untuk menengok Uni dan Randu. Tapi dia ternyata tidak ada....

“Sejak kapan, Pak?”

“Mungkin sudah lebih dari setahun, Bu Dokter. Saya tidak ingat persisnya. Katanya buat cari pengalaman, juga buat bekal sekolah Randu. Tidak apa-apa, Bu Dokter. Kan ada saya dan neneknya yang menjaga Randu...”

Nadia berbasa-basi sebentar, lalu menitipkan buah tangan berupa coklat dan mainan. Dia lalu menuju rumah Maya. Kecewa masih membuntuti hatinya. Padahal, ia sudah memiliki daftar panjang makanan yang ingin ia minta dari Uni : teh panas, ubi goreng, keladi kukus....Daftar itu kini tiba-tiba menguap dari kepalanya. Telah ia siapkan pula sepotong kain untuk kerudung serta dua potong bahan untuk kebaya. Ah, kapan lagi bisa bertemu perempuan itu?

“Hampir semua perempuan di desa ini kena bujuk rayu si Amat, makelar TKI itu!” Maya bersungut-sungut sembari bercerita mengenai kepergian sebagian perempuan desa Langit Biru, mengais rejeki di Arab Saudi.

“Ternyata, Si Amat itu penipu!” Maya menjelonjorkan kakinya di sofa, setelah penat seharian bertugas di puskesmas.

“Hah? Penipu bagaimana?” Nadia tersedak air putih yang baru diminumnya. Terbatuk-batuk dia mendengar cerita Maya. Apakah Uni tertipu juga?

“Ya, sebagian perempuan di kampung ini kembali karena tidak jadi diberangkatkan ke Arab. Uang panjarnya saja diambil, setelah itu, tak muncul sudah batang hidungnya!”

“Loh, tapi Si Uni berangkat ke Arab, kata Abahnya Uni? Tadi aku ketemu dia di depan SD Inpres, kok.”

Maya mencomot sebuah pisang susu lalu memakannya. “Nah, Si Uni itu beruntung dia. Uni dan beberapa orang di desa ini, jadi berangkat sih. Amat itu, hanya berhasil memberangkatkan sebagian saja. Sebagian lagi tidak, dan uang tidak kembali. Tuh, sekarang Amat lagi jadi buronan polisi! “

Nadia menarik nafas lega. Syukurlah Uni tidak tertipu, pikirnya. Mudah-mudahan dia memiliki majikan yang baik. Tidak seperti kabar di media masa tentang nasib naas para TKI di Arab, yang membuatnya bergidik. Uni, di manakah kamu sekarang? Inginnya Nadia menyusul Uni ke sana, memintanya kembali ke desa. Jika Uni butuh uang, Nadia bisa memberinya....Halah, kenapa lamunannya melambung terlalu tinggi? Nadia mencoba menyetop khayalannya, tapi bayang-bayang Uni selalu merebak, melampaui daya nalar, liar menggigit-gigit nuraninya. Ya, Tuhan...aku terlalu mencintainya! Nadia mengeluh dalam hati.

***

Kepergian Uni ke Arab kerap mengusik pikiran Nadia, pun setelah beberapa hari ia pulang dari rehatnya di desa Langit Biru. Gelisah menyusup di hampir setiap detik kegiatannya, termasuk di tengah sibuk aktivitasnya sebagai Residen di bangsal anak-anak RSUP Jati Mulya. Bahagiakah Uni di Arab? Atau, sedihkah ia di sana? Atau malah..jangan-jangan...ah, beribu bayangan buruk menghantui pikirannya, siksaan, cambukan atau hukuman fisik dari majikan-majikan Arab yang kerap menimpa para TKI, berjejal mendera nuraninya.

Aku harus yakin Uni bahagia, tegasnya pada diri sendiri. Dibukanya secarik kertas berisikan alamat perusahaan agen penyalur TKI, tempat Uni melamar pekerjaan. Alamat ini ia dapat dengan susah payah dari hasil pencariannya bersama Maya, bertanya ke hampir semua penduduk desa yang keluarganya berangkat ataupun batal jadi TKI. Ia gemas mengingat Pak Danang tidak tahu lewat agen mana putrinya bekerja! Huh, dasar...yang diingatnya hanya kiriman uang Uni secara teratur ia terima buat biaya sekolah Randu! Bagaimana mungkin juga Pak Danang tidak tahu nomor telepon Uni di Arab! Nadia sangat emosionil dengan keluguan Pak Danang, tapi akhirnya ia perlahan sadar kalau yang ia hadapi hanya lelaki desa yang sudah berumur dan pikun pula. Meski Pak Danang pernah hidup di rantau, tapi daya nalarnya yang sempit tidak berkembang juga karena di tanah rantau hanya bisa bekerja sebagai tukang becak dan pemulung. Lagipula, desa ini penuh perantau yang tanpa kabar berita, tentu baginya tak aneh Uni pergi dan jika pun tanpa kabar berita itu hanya kehendak alam belaka.

Pas saat Nadia libur dari tugas jaga, dia menyempatkan diri pergi ke CV.Pelangi Cahaya, agen TKI yang disebut menyalurkan Uni. Tapi, astaganaga....mencari kantor CV. Pelangi Cahaya tidak semudah menjentikkan jari. Meski ia sudah mengenal Jakarta sejak kuliah kedokteran delapan tahun lalu, CV ini benar-benar seperti kantor misterius dengan alamat tidak jelas. Nadia mengubek-ubek hampir seluruh belantara Jakarta yang dicurigainya sebagai kantor agen itu. Dengan semangat ala detektif swasta, ia merunut semua jejak Uni yang hanya secuil ia dapatkan dari Pak Danang, Maya maupun informasi sejumlah warga desa Langit Biru. Uni, Uni...di mana kau, Sayang? bisik Nadia dalam hatinya, di sela kepenatannya mencari jejak Uni.
Dua hari terlewat, Nadia belum berhasil mendapatkan jejak kantor CV. Pelangi Cahaya. Di hari ketiga, barulah ia menemukan kantor itu, dibilangan pinggiran Jakarta. Hatinya langsung kebat-kebit sewaktu dilihatnya rumah yang disebut kantor itu terletak di gang sempit dengan bangunan tak terawat dan atapnya pun tak utuh lagi. Plang CV. Pelangi Cahaya itu pun sudah lapuk dan kehilangan satu dua hurufnya. Astaga! Kantor seperti inikah yang memberangkatkan Uni ke Arab?
Dengan penuh diliputi kekhawatiran, ia masuk ke ruangan kantor. Didapatinya hanya seorang perempuan tua duduk di ruang tamu merangkap kantor itu.

“Permisi, Bu...apakah ini benar kantor CV. Pelangi Cahaya?”
Perempuan itu mengangkat kaca matanya. “Eh, iya....eh...maksud saya..iya, dulunya. Sekarang sudah tutup, Nak. Ada apa ya, Nak...??”

Hati Nadia langsung dingin seperti disiram seember air es. Tutup? Lalu, bagaimana ia mencari informasi keberadaan Uni?

“Maaf, Bu...saya mencari keluarga saya. Katanya dulu diberangkatkan ke Arab melalui agen ini. Kira-kira setahun yang lalu. Apakah masih ada data-datanya? Karena ada keluarganya yang sakit, jadi saya perlu menghubunginya...” Nadi berbohong kepada perempuan tua itu.

“Setahun yang lalu? Sepertinya tidak mungkin ya, Dik. Sebab perusahaan ini telah tutup dua tahun yang lalu. Sebelumnya, anak saya yang mengelola. Tapi sejak dia meninggal karena kecelakaan, tidak ada lagi yang mengurus. Istrinya malah pergi jadi TKI di Malaysia. Anak-anaknya ada yang sudah menikah, ada juga yang masih kuliah di Yogya, jadi hanya saya yang tinggal di sini bersama seorang keponakan.”

Waduh! Ini malah lebih parah! Uni tidak diberangkatkan melalui perusahaan ini yang sudah jelas-jelas tutup sebelum Uni berangkat! Di mana Uni? Berbagai pertanyaan dan khayalan buruk mampir di kepala Nadia. Ia buru-buru pamit kepada ibu tua di kantor itu. Ke mana ia sekarang mesti mencari Uni?


*Mari kita termehek-mehek dulu yakkkk???? hihihi... Apakah Nadia bisa menemukan Uni dan hidup bahagiaaaaaaaaaaaaa??? Nantikan lanjutannya, kapan-kapan, oke??? kqkqkqkq
*Cerbung "Cinta Dua Musim (I), Desa Langit Biru" -nepenthes-
*Cerbung "Cinta Dua Musim (II), Uni dan Nadia" - nepenthes-


15 comments:

  1. xixixixi gliran bu doktr mehk2........*jewer k nyonyooooooooooooooooooooooooooo

    BalasHapus
  2. Neth...jewer abis aja...jangan malu-malu..hihihii

    (Nepen)

    BalasHapus
  3. hadeuh ampe keselek nech
    gantung bgt.
    Hiks hiks bu dokter ayo semangat.

    Bayangin bu dokternya ah...

    -dree-

    BalasHapus
  4. Wah-wah-whooaaaa....

    Jd terhanyut dan gk bisa berhenti membacanya, kk... Two thumbs for U!

    Tp, jd makin pnasaran, nih... Kpn klanjutannya?

    BalasHapus
  5. aw..aw..aw..
    Yg bca ikutn kobat-kabit nich ati-na..
    Gmn nasib uni..?
    G sbr ngg lanjutn-na..^^
    -FemmeNaShun-

    BalasHapus
  6. ~dree, Naomi n Femmeeeee...ntar biar Nepen nyang jawaaabbbb yaaaaaaaaak???? hihihi :))

    BalasHapus
  7. @ Dree....boleh deh bayangin bu dokter, biar ilang keseleknya...heheheh

    @Naomi...sabar ya..pasti ada kelanjutannya. Mau pesan ending yang bahagia atau yang sedih...???

    @FemmNa Shun....sabar ya tunggu kabar nasibna Uni...

    (Nepen)

    BalasHapus
  8. yaah, ko lanjutannya kapan2??? sinetron yg brapa session aja ketauan kapan next seasonnya... *desperade pengen cepet baca lanjutannya* hihi

    ditunggu yaaaaaaaahh....

    BalasHapus
  9. Kolonellll, secepatnya dituntaskan tuh khayalan bu dokter jangan sampe jendral yang menuntaskannya yak, qeqeqeqeqeq :p

    BalasHapus
  10. ~KrisCooooooooooop.... lohh??? lohhhh??? itu kan sinetron, ini pan cerbuuuuuuuuuuung...cerpen nyang buat pembacanya kembuuuuuuuuuuuuung...jiahahahahahha... stay tune kriscoooooooooooooop.... huahahahahhaha

    BalasHapus
  11. ~Siaap Jendraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaal !!! jiaaaaa maunya Jendraaaaal tuhhhhh.... wkwkkwkwkwkwkkwkkwkw

    BalasHapus
  12. nepeeen... bersambung sih bersambung, tapi jangan pendek2 dong per episodnya -___-"

    BalasHapus
  13. bybyq,
    kalo panjang-panjang ntar gak kebaca, pada mau lari ke endingnya aja...hehehe

    (Nepen)

    BalasHapus
  14. jadiin satu yang bisa didownload sbg e-book dong :D... bybyq banyak maunya yaaak?

    BalasHapus
  15. ~bybyyyyyyyyyyyyyyyq... beberapa teman sudah merubah cerbung ini jadi e-book. filenya dirubah dulu ke pdf ato html trus convert pake sofware "calibre". gretong lohhhh... cobain dehhh... ato ada yg jalan pintas di print.

    BalasHapus

hati hati keinjek pupuk kandang, ya...