DESA LANGIT BIRU
Uni selalu menanti senja. Saat mentari semburat di ufuk Barat, ia menuntas riuh rindunya, meski hanya lewat tatap hangat Bu Dokter. Saat-saat yang selalu dinantinya, detil dalam hitungan detik yang melenakan. Bu Dokter datang menengok Randu, putra semata wayangnya, memeriksa dada si kecilnya yang baru berusia empat tahun dengan stetoskop, kemudian mengetuk jemarinya di bagian perut. Meski singkat, sederhana dan terlampau rutin, tapi selalu istimewa baginya.Sejak dua minggu ini, kunjungan Bu Dokter memang selalu dilakukan sebab asma Randu mulai kambuh sedari musim hujan tiba. Angin dingin tak bersahabat menusuk paru-parunya dan si kecil tak sanggup menahan sesak yang mengganggu nafas. Bu Dokter yang baik hati bersedia menjenguknya sepulang kerja dari puskesmas. Katanya, Uni tak perlu repot ke puskesmas memeriksakan Randu, Bu Dokter yang justru menawarkan diri melakukan kunjungan rutin hingga Randu sembuh. Toh, juga setiap kali pulang ke rumah dinas, Bu Dokter selalu lewat di rumah Uni, begitu alasannya. Uni senang tentu saja.
Entah kenapa, Uni merasakan hal lain. Mungkin sejak kejadian itu...peristiwa yang tak hendak ia lupa. Dikarenakan ruang periksa puskesmas yang sempit, tak sengaja bibir Bu Dokter menyentuh bibirnya, juga payudara keduanya bergesekan, saat Bu Dokter melewati tubuhnya yang agak montok, untuk mengambil obat di meja persis di sebelahnya. Hangat menyelinap di balik jantungnya. Pipinya memerah. Dilihatnya Bu Dokter tersenyum dan menatapnya hangat. Tidak. Mungkin ia salah sangka. Tapi Uni suka dengan perasaan ini. Rasa yang lain dibanding rasa yang pernah ia kecap sewaktu pertama kali berkenalan dengan Abang.
Abang terlalu lama meninggalkannya. Tiga tahun lebih tak berkabar, pamit mencari kerja di kota dan hilang berita hingga kini. Tapi Uni tidak mempermasalahkannya. Sebab itu adalah hal lumrah. Separuh lebih lelaki di desa Langit Biru pergi merantau dalam sepuluh atau lima belas tahun lamanya. Kepulangan mereka pun cuma sebulan atau dua bulan semasa Lebaran, setelah itu, para lelaki membuang usia kembali di tempat rantau hingga umur menggerogoti dan tubuh tak kuat lagi bekerja.
Di desa ini memang dipenuhi perempuan. Jika pun ada lelaki, itu adalah anak-anak dibawah usia 17 tahun atau lelaki renta yang sudah tak mampu bekerja lagi. Lelaki di Langit Biru memang diwajibkan merantau setelah menikah dan punya anak. Mereka kembali setelah dianggap sukses dan mampu membeli ladang serta ternak. Jika tak sukses di tempat rantau, lelaki Langit Biru akan malu pulang dan tak akan pernah jelas lagi kabarnya. Sedangkan perempuan mengolah ladang untuk menghidupi diri serta anak-anaknya.
Uni hanya perempuan biasa. Beberapa tahun ditinggal Abang, ia mungkin rindu. Kangen yang ia coba atasi, meski tetap saja tak bisa tertutupi. Gairah mudanya kadang menggelegak membobol tanggul-tanggul pertahannya. Mungkin Uni hanya rindu belai Abang, begitu hiburnya selalu, manakala perasaan ganjil itu datang. Melamunkan senyum Bu Dokter dan tatap hangatnya yang membalut kalbu, selalu menjadi hal rutin yang menggugah gairahnya. Meski ia hanya berani menyimpannya di bawah bantal saat lelah menggerogoti dan kantuk tak kuasa ia tanggulangi.
Bu Dokter kerap memegang tangannya, lalu meletakkannya di dada Randu.
“Sesak nafasnya sudah berkurang, bukan?” Bu Dokter ingin meyakinkan Uni, bahwa Randu telah membaik. Sengajakah dia? Atau begitukah memang dokter berbuat untuk para pasiennya? Entah, Uni tidak mau berpikir panjang. Dia senang. Berbalut bahagia. Hanya itu yang dirasanya.
Hari kian berganti, Randu telah sehat dan bisa bermain seperti sedia kala. Bu Dokter yang baru bertugas dua bulan di puskesmas itu pun kian jarang datang. Uni merasa kehilangan. Sambil mengawasi Randu yang tengah tertawa ceria bersama teman-temannya, ia membongkar lamunan tentang Bu Dokter yang pintar itu. Hmm..entah apa yang menarik darinya. Cantik? Tidak. Rambutnya malah tergolong pendek dibanding perempuan umumnya. Menurut Uni, Bu Dokter yang kulitnya putih itu lebih tepat disebut tampan. Bahkan, suaranya pun agak serak, tidak nyaring seperti perempuan lainnya. Dengan mengendari mobil hard-top merah marunnya, ia tampak gagah. Ia kerap mengajak anak-anak berkeliling desa. Tak luput, Randu pun sering diajaknya. Aih, tentu Uni bahagia, menatap Randu tertawa senang terempas gelombang jalan di kursi empuk mobil Bu Dokter.
Ia sering membandingkan Abang dengan Bu Dokter. Apalah artinya Abang dibanding Bu Dokter? Abang hanya seorang lelaki sederhana dengan penampilan biasa-biasa saja. Untuk ukuran desa pun Abang tak istimewa. Berbedalah dengan Bu Dokter yang necis, pintar dan pandai mengambil hati itu. Aih....andai saja Abang itu Bu Dokter dan dia ada di sampingnya di dalam mobil hard top itu, oalah...bagaimana rasanya ya?
***
Tapi khayal Uni bukan hanya sekedar lamunan. Suatu senja dirubung lebatnya hujan, saat Uni bergegas pulang dari ladang menenteng seikat ubi jalar dan berpayung daun keladi, hard top Bu Dokter menghampirinya. Uni tak sanggup menolak ajakan Bu Dokter untuk naik ke mobilnya. Malu dikesampingkannya. Bajunya basah kuyup, rumahnya masih jauh dan dingin menggigilkan tubuh. Tentu tawaran Bu Dokter tak sanggup ia sia-siakan.
Sepanjang jalan sibuknya Uni menahan debur jantung yang kian menggelora. Wajahnya ditundukkan dalam-dalam, sebab ia tak ingin Bu Dokter menangkap semu merah merona di pipinya. Setiba di depan rumah, basa-basi diajaknya Bu Dokter mampir. Eh, tak dinyana Bu Dokter bersedia. Malah, memayunginya dengan payung besar yang tersedia di hard-top marunnya. Badan mereka yang rapat satu sama lain di bawah payung membuat Uni bisa merasakan pancaran hangat tubuh perempuan yang diidolakannya itu. Harum aroma tembakau bercampur bau parfum berembus dari baju dinas Bu Dokter, memenuhi pori-pori hidungnya.
Bu Dokter tak keberatan duduk di atas bale di amben, sambil menunggu Uni berganti pakaian.
“Randu ke mana?” tanya Bu Dokter, setengah berteriak di tengah deras hujan sebab Uni ada di ruang tengah merangkap dapur, menyiapkan teh panas sebagai pembalas budi.
“Oh, Randu lagi menginap di rumah neneknya. Nenek dan kakeknya merindukan dia. Jadi dia menginap dua malam di sana,”
Uni muncul sambil membawa nampan berisikan teh panas dan sepiring ubi goreng. Uni terpesona melihat cara Bu Dokter duduk menyilangkan kaki serta keberadaan sebatang rokok di sela jemarinya.
“Maaf, saya merokok. Tidak apa-apa kan?”
“Oh, ya..tidak apa-apa,” Uni tergagap, menyadari bahwa ia sempat terbengong beberapa jenak.
Bu Dokter menyeruput teh panas buatannya dengan penuh nikmat. Ah, hati Uni melompat, seperti lepas dari keranjangnya. Aih, teh panas itu tentu tak ada apa-apanya dibanding susu coklat yang pernah dilihatnya di atas meja Bu Dokter di puskesmas.
“Hmmm...teh yang enak. Pakai jahe atau pandan?”
“Bukan, pakai daun delima. Enak?”
“Daun delima? Pantas...ini teh terenak yang pernah saya minum!” puji Bu Dokter dengan mata berbinar dan menatapnya dalam. Uni salah tingkah. Benarkah? Bukankah di Jakarta, tempat asal Bu Dokter ini, banyak ada minuman enak-enak?
Tapi hati Uni tak pelak melambung tinggi. Baru sekali ini ia mendapat pujian yang disampaikan penuh kejujuran dan pancaran mata yang hangat. Tak pernah sekali pun Abang memuji kopi atau teh buatannya. Abang cukup menyeruput minuman buatannya hingga habis, pertanda penghargaan atas jerih payah Uni. Selebihnya itu tidak ada. Tak ada kata atau decak nikmat keluar dari bibir lelaki pendiam itu. Beda sekali dengan Bu Dokter. Bu Dokter pandai memuji dan bercerita. Apa yang diucapnya selalu menarik Uni dan membuatnya mengerjap kagum. Aih, betapa bahagianya yang menjadi pasangan Bu Dokter. Setiap hari pasti terisi dengan waktu-waktu penuh bahagia dengan ceria tawa, canda serta ceritanya yang tak pernah habis.
Ketika petang berganti malam dan gelap awan telah diganti purnama ditingkahi jengkerik dan kodok, Bu Dokter pamit pulang. Hati Uni kembali dirundung sunyi. Inginnya dia memintanya menginap, tapi apalah arti rumahnya yang begitu sederhana. Pasti Bu Dokter tidak biasa tidur di kasur tipis miliknya. Saat perempuan itu telah pulang, ia menyimpan setiap detil bayangnya yang termuat dalam mimpi indah yang menghias tidurnya.
***
*Bersambung ga yaaaa??? Bersambung aja deehhhhh.... hehehe :)) Bagaimana kelanjutan kisah asmara terpendam Uni??? Nantikan sambungan cerpen "Cinta Dua Musim" tahun depaaaaaaaaaaaaaaaaaaan..... wkwkwkwkwkkwkwkwwkwk
beugh....
BalasHapusPanasaran euy...hehe lg serius baca ternyata eh ternyata to be continued...rela ah menunggu...tapi kelamaan atuh kalo taun dpan.
Tapi tak mengapa...wkwkwk...
Oh bu dokter...
-dree-
jiaaaahh, bersambuung... jangan lama2 doonk sambungannya, dek2an nih bacanya.. hahaha...
BalasHapusHufft!!
BalasHapusbenci liat cerita bersambung!
bgs x lah critanya
anda layak dpt bintang!
kutunggu klanjutannya yah.
*Fel Rachel*
Dear Mbak Nepenthes,
BalasHapusSalam kenal ya..
Dan sambungan cerita ini kutunggu secepatnya hehe
Dug dug tak,, dug dug tak,,
Jantungku bermasalah deh
mau dong di periksa Bu Dokter
Wkwkwkw
Aku ikut ngerasain kuatnya pesona Bu Dokter
I Like it (^_^)b
-Tweet
*sembunyiin kalender 2011 truz ganti yg 2012.
BalasHapusNah Den,da thn 2012 ayo dipost kan lagi cerpen mbak Nepen ini.
Khekhekhekhe
apa yang terjadi selanjutnya ya. pengen si bisa menduga2 tapi gak berani...
BalasHapus~Dreeeeeeeeeeeeee...jangan penasaran nanti kau kelelep dalam pusarannnnnnnn... hehehe :))
BalasHapussering2 aja melintas di kebon ijoooooo...sapa tau kelanjutannya segera diposting, okeyyyyyy???? :D
~kriscooooooooooop... jiahahahahahaha...deg deg-an diaaaaaaaaaaaaaa... pasti nghayal asmara uni ama bu dokter, taaaaaaaaaaaak???? wkwkwkkwkwkwkwkw
BalasHapus~Fel Racheeeeeeeeeeel...puyer bintang tujuh takkkk??? hehehe... eiiiiitssss jangan2 bersungut2 atuh, ilang ntar cakepnyaaaaaa... sabar yaaaaa...orang sabar, pantatnya besarrrrrrrrrrrrrrrr.... hihihi :))
BalasHapusthanks Fel ntuk apresiasinyaaaaaaa.... *cipok*
~Silverrrrrrrrrrrrrrr... jangan ganti kalender atuuuhhh...ntar kiamat makin cepet naaaaaaaaaaaaahhhhh.... jiahahahhahahahahahahaha
BalasHapus~Kopi Luwakkkkkkk...silahkan menduga2, mumpung belon kena pajakkkkkk....hehehehe :))
BalasHapusThanks ya udah mampir. Sukses untuk Kopi Luwak!!! :))
bersambung???????????? tiiidaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkk....be mau bu dokter...mana..mana bu dokter cakepnya????
BalasHapus@Dree, Fel Rachel, Tweet, Kopi Luwak, Silver, Ice Be, trims udah membaca dan penasaran ama cerpennya....(cerpen dijadikan cerbung sih itu ide gila Den Inyo....) hihi
BalasHapus@Tweet, salam kenal juga ya.
@Ice Be...mau dokternya? Sama dunkkkk....!!
hhhhmmmmmmmmmmmmmm
BalasHapusbangga bisa baca nie cerita duluan,,, sambil ditraktir kopi pula sama inyo ijo,,,, ^.^
xixixiixixixixiixixi
~Greyyyyyyyyyyyyyyyyy... ahhhh jadi ingat kencan yg rame dgn nuansa kontrol para biniiiiii hehehehhehehe :))
BalasHapusinyo jg senang bs sharing nih cerpen duluan ama Grey. thanks for ur advises, Greyyyyy.... *cipok*
tapi, mungkin endingnya ga seprti yg asli lagi, karena banyak tuntutan ntuk ending yg happy, terpaksa kami edit ulang, drpd bonyok dihajar massa.... huahahhahahahahahhaa :))
Huahuuuuuuuuuu hiksss dah seneng ada crpen mpe kbur kuliah eeee dimutilasiiiiiii dasaaaaaaaaaaar k nyonyoooooooooo *jewer* xixixixixi
BalasHapusk nepeeeeeeeeeeeeen sgra tuntasin y????????? Jgn dengerin k nyonyooooooooo kikikikik
arnetha,
BalasHapusaduh..ampe bela-belain kabur demi secuil cerpen yang dimutalasi dengan sukses oleh Inyo...kekekeke
Gimana kalo cerpennya kita jadikan novel nyokkk?? Mau gak, Neth? Biar lebih seru penasarannya....(Nepen)
k nepeeeeeeeeeeen......tuk k dpan buat novel ide y bgus k. tuk saat ni tuntasin crpen naaaaaaaaaaaaaaaa xixixi
BalasHapusSabar nah, Neth.....xixixixixi (Nepen)
BalasHapuslagi ikutan deg-degan kok malah kepenggal,, kuciwa niyeeeeeee,,, hahahaha...
BalasHapusbeneran nih lanjutinnya tahun depan? kalo gitu, awak ikutan abang merantau dulu ya,, :P
nepen.. ini jempol duwa buat ceritamu.. hehe... :)
Yha...
BalasHapusthanks for the jempols....
merantau dulu nah...biar aku ada waktu bwt menulis sambungannnya....hehehehe
(Nepen)
~IyHaaaaaaaaaaaaa...ihhhh jangan lama2 ya merataunya, aku tak punya kawan ngakak neeeehhhhh... makasih ya sissssssss... *cipok* :))
BalasHapus