Jumat, 28 Januari 2011

Cerbung : "Cinta Dua Musim" (II) -nepenthes-

UNI dan NADIA

Hari demi hari berganti, diisi dengan ceria tawa Bu Dokter. Semua penduduk desa pun menyukainya. Dia seperti menghidupkan semangat perempuan yang telah datar sebab lelah menunggu kepulangan suami. Apalagi Uni. Hatinya selalu berbunga-bunga jika Bu Dokter menyempatkan diri mampir ke rumahnya. Entah untuk meminta dibuatkan pisang goreng, ubi atau jagung bakar, kukus ketan, dan tentu saja tak lupa minta disuguhi teh daun delima panas buatannya. Bu Dokter yang baik hati selalu memberi hadiah mainan buat Randu. Bertumpuk-tumpuk sudah hadiahnya di lemari, disimpannya rapi setelah dipakai bermain Randu. Ia kerap memarahi Randu jika sedikit saja didapatinya bagian mainannya yang copot atau tergores.

Tapi, kebahagiaannya teraniaya oleh gosip miring tentang Bu Dokter.

“Bu Dokter itu pasti sakit!” kata Mimi, tetangga Uni, sewaktu meminjam penggiling tepung.

“Hah, sakit apa dia?” tanya Uni. Selama ini dilihatnya Bu Dokter begitu sehat.

Mimi mendekatkan mulutnya di dekat telinga Uni,”Dia menyukai perempuan!”

Hati Uni seketika dingin. Jadi? Tapi bukannya dia juga menyukai Bu Dokter? Apa bedanya? Apa salahnya? Namun di depan Mimi, si penggosip desa, Uni pura-pura tak acuh.

“Kok bisa tahu dia begitu?” pancingnya.

“Lha iyalah...kaya, pintar, penampilan necis, kok sampai sekarang belum menikah? Gayanya coba lihat, tak ada perempuannya dia! Manalah dia suka lelaki?” Bibir Mimi meruncing seperti corong minyak, mencibir Bu Dokter.

“Oooh, itu anggapan kamu saja toh?”

“Bukan! Semua orang juga sudah mulai curiga dan saling berbisik. Kamu saja yang telat! Permisi, aku pulang dulu ya! Hati-hati loh..jangan terlalu dekat dengan dia....!!” Mimi berpesan sembari mengerjap penuh arti, kemudian menghilang dari pandangnya.

Jadi, dia harus bagaimana? Mengikuti kata hatinya? Atau, menjauhi Bu Dokter supaya tidak digosipkan para tetangga yang sudah mulai curiga? Uni bingung. Tapi, di dasar hatinya terus menggelegak rindu yang selalu menaut hatinya dengan bayang Bu Dokter....

***

Dua musim telah berlalu. Ini sudah di ujung musim kemarau. Mendung mulai menguasai langit dan rintik hujan sesekali turun membasahi ladang-ladang yang lelah merindu air. Angin dingin kembali menusuk tulang dan Randu mulai menunjukkan gejala asmanya. Nafasnya kerap tersengal di malam hari sehingga Uni sibuk menggosokkan minyak kayu putih atau balsem di dada serta punggung anak itu.

Sejak gosip tak sedap menimpa Bu Dokter, Uni menghindari pertemuan rutin dengan dokter yang baik hati itu. Ia lebih banyak menyibukkan diri di ladang. Lagipula, harga cabai yang mahal membuatnya bersemangat bertani cabai, mengambil kesempatan yang jarang datangnya. Lumayan hasilnya, cukup buat hidupnya selama tiga bulan kedepan.

Uni berupaya mencari selamat dari gosip. Desa Langit Biru hanyalah desa kecil. Rahasia apa yang bisa disimpan di desa ini? Dinding kamar pun kerap bertelinga. Rahasia dalam kamar bisa menjadi rahasia desa. Ia tentu malu teramat sangat jika penduduk kampung menangkap keakrabannya dengan Bu Dokter. Waduh, bagaimana nasibnya jika menjadi bulan-bulanan gosip di kampung? Kasihan ibu dan ayahnya dan renta. Kasihan juga Randu. Sudah tidak ada ayahnya, sudah sakit, ibunya digosipkan berselingkuh dengan Bu Dokter. Kurang apalagi penderitaan anak itu?

Kambuhnya asma Randu pun tak membuatnya bergeming mengetuk pintu puskesmas untuk meminta obat atau resep buat kesembuhan Randu. Biarlah. Biarlah Randu diobati dengan cara tradisional saja. Dia pasti sembuh. Dia anak yang kuat seperti dirinya, seperti juga puluhan perempuan dan anak yang ditinggal merantau para lelaki di desa ini.

Tapi malam ini lain. Randu tersengal hebat dan badannya sangat panas. Sesekali ia kejang. Uni kalang kabut mengompres dahi anaknya, namun demam anaknya tak kunjung turun. Ditengah kebingungannya, Uni akhirnya menyerah. Tak apalah dia menanggung malu, lama menghindar dari kunjungan Bu Dokter, bahkan kerap ia bergegas menjauhi puskesmas agar tak berpapasan dengannya. Demi Randu, ia menabukan rasa malu. Dia menggendong Randu lalu setengah berlari menuju rumah dinas Bu Dokter yang tak begitu jauh dari pondoknya.

Seorang perempuan muda dengan mata setengah mengantuk membukakan pintu untuknya. Bu Dokter yang masih mengenakan celana pendek, dengan cekatan membaringkan Randu di kursi tamu lalu memeriksa suhu badan serta denyut jantungnya. Bu Dokter juga memberi sejenis obat untuk dihirup Randu. Syukurlah, setelah diberi obat Randu berangsur pulih. Dia tidak panas dan kejang lagi. Nafasnya pun telah teratur. Tapi Bu Dokter melarang Uni membawa pulang Randu hingga matahari terbit. Uni pun menurut, lalu tertidur menelungkup di sofa sembari memeluk Randu.

Tak dirasanya matahari telah tinggi ketika kelopak matanya terbuka dari tidur yang lelap. Rasanya seperti mimpi, tatkala dilihatnya Bu Dokter telah berpakaian rapi, sibuk memindah barang yang terpak ke dalam mobilnya.

“Mbak Uni, mencari Randu? Randu sudah baikan. Dia lagi duduk di dalam mobil. Mau menikmati mobil untuk terakhir kali, katanya.”

“Loh, memangnya Bu Dokter mau ke mana?”

“Saya mau balik ke Jakarta. Masa dinas saya di desa ini telah usai. Kenalkan, ini mantan teman kuliah saya, Maya. Dia yang menggantikan tugas saya di sini.”

“Oh!” hanya itu yang bisa diucap Uni. Mendadak tubuhnya lemas. Separuh nyawanya lepas. Meski selama ini ia menghindar dari Bu Dokter, dia merasa belum sepenuhnya siap ditinggal pergi perempuan yang diam-diam mengisi ruang-ruang angannya. Sedih mengiris hatinya, membelah-belah ketangguhan jiwa yang selama ini menebalkannya.

Uni lalu menjemput Randu di mobil. Syukur, ada Randu. Akar yang masih menopang kekuatan hidupnya. Bergegas ia membuka pintu mobil, meminta Randu turun sebab Bu Dokter sudah siap berangkat ke Jakarta. Dipeluknya anak itu erat-erat. Kuatkan ibu, Nak, bisiknya dalam hati. Setelah berbasa-basi sebentar, Bu Dokter naik ke mobil dan perlahan meninggalkannya.

Uni memeluk bahu Randu sembari mengiringi hard top yang perlahan menghilang dari pandangnya. Dia masih menyimpan hangat telapak tangan Bu Dokter, saat Bu Dokter menyalaminya erat. Masih lekat dalam benaknya, kilat sedih di mata perempuan itu. Seperti juga cahaya, yang meredup di bola matanya....Apakah kau akan melupakan aku, si perempuan desa ini?

***

Dia hanya perempuan desa, mana berani dia menjalin cinta denganku? keluh Nadia. Ditatapnya wajah Uni dari balik spion hard-topnya. Uni. Uni. Uni. Nama itu selalu berulang kali hadir di benaknya, membuat kecepatan jantung dan jumlah adrenalinnya bertambah dua kali lipat. Tidak. Tidaklah mungkin. Ini hanya fatamorgana, protes hatinya! Seperti juga fatamorgana yang pernah dijalaninya bersama Lies.

Cinta ini telah ia kenal sejak SMP ini, cinta yang selalu coba ia aborsi, namun akhirnya justru beranak pinak secara pesat di dalam hatinya. Setiap kali ada perempuan cantik di dekatnya, hatinya selalu bergetar hebat. Tapi cinta itu hanya ia pendam dalam hati. Cinta yang ia sembunyikan. Cinta yang memaksanya menjalani berbagai drama unhappy ending. Cinta yang selalu ia nafikan dibalik kenakalan, keisengan, canda tawa, kesibukan dan juga segudang prestasi di sekolah pun di luar sekolah. Dia hanya ingin menjadi “anak lelaki hebat” kebanggaan Romo. Ia berbuat segalanya untuk melihat binar-binar bahagia di mata Romo, menutupi kekecewaan Romo karena ia terlahir perempuan. Romo membentuknya menjadi “anak laki-laki”. Romo menjauhkannya dari segala hal berbau perempuan. Ia memang akhirnya menjadi “anak laki-laki”, bahkan mampu membuat Romo bangga karena segudang prestasinya, tapi apakah Romo masih bangga jika hanya perempuan yang sanggup mengisi hatinya?

Hanya dengan Lies ia berani mengungkapkan perasaannya. Anak fakultas Sastra Inggris yang mampu membuatnya mengerjap kagum sebab karya puisinya yang indah. Hanya Lies yang mampu memahami dirinya, mendengar dengan tekun isi kesintingan kepalanya, mengikuti imajinasinya yang liar, mewadahi dirinya dengan kesabaran yang multiple, dengan Lies dia berbagi rahasia, dan Lies...perempuan itu, ialah yang bersedia memerawani hatinya...

Namun kebahagiaan itu hanya sekejap. Kisah cintanya pun seklise drama-drama lesbian lainnya. Lies menutup kisah cintanya, mencoba menjadi anak berbakti, menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya, setelah kedua orang tua Lies mencium keganjilan kedekatan mereka berdua. Janji Lies untuk tetap menjadi saudara dan sahabatnya, hanyalah janji belaka. Lies dan dia tak pernah bertemu kembali setelah pesta pernikahannya yang meriah. Bahkan, di hari wisuda Nadia pun, Lies tidak datang sesuai ucapnya di telepon. Lies hanyalah merpati yang selalu ingkar janji...

Nadia bersumpah dalam hati, Lies yang pertama dan terakhir. Nadia ingin “selibat” dan mengabdikan diri pada profesinya. Tapi Uni, perempuan desa itu...ia tak ubahnya Shakuntala, mampu membobol sumpahnya sebagai “pertapa”, membangunkannya dari “meditasi panjang”. Nadia sebenarnya telah sekuat tenaga melawan, sebab ia sudah bisa menebak kisahnya bakal unhappy ending...Tapi tak urung, Nadia menikmati cintanya. Meski terbukti nalurinya benar. Perempuan itu telah menghindarinya, seolah ia kuman yang bakal mengotori hidupnya. Namun ia tak mampu marah atau benci pada cinta yang mendadak menyerangnya. Sebab ia menikmati cintanya, candu yang mampu menaikkan kadar adrenalinnya. Seperti ia menikmati hangat kasih sayang Uni dan juga Randu.

Uni dan Randu, merekalah “rumah” yang ia angankan untuk melepas penat hidupnya. Namun ia sadar, pintu itu tertutup. Berimajinasi hanya memerihkan hati, sebab nyata itu tak akan pernah ada. Ia tak akan mampu memberi Uni dan Randu sehelai surat, yang bisa membuat hidup mereka aman dan nyaman....

Nadia menghela nafas dalam-dalam. Tak ada lagi perih ia rasa menerima kenyataan ini. Usia mematangkan nalarnya. Ia menghisap A-Mild merah yang telah tinggal ujungnya. Mencoba memfokuskan pikiran pada tes ujian masuk kedokteran ahli anak yang akan dilakukannya lusa. Usaikah sudah kisah cinta dua musimnya?

*Lanjut ga yaaaa??? Lanjut aja lagi yaaakkk??? Loh, koq jadi sinetron??? Beginilah jadinya jika mengikuti kemauan pembaca...*halah* hehehe
Padahal penulisnya dah ngos-ngosan terkuras perasaannya, lohhh... tapi, gapapa demi pembaca kebon ijoooo...hihihi ;)

*Bagi pembaca yang baru membaca cerbung (??!@$%^&@) ini, silahkan terlebih dahulu membaca cerpen "Cinta Dua Musim (I)" Desa Langit Biru . wkwkwkwk...


22 comments:

  1. lanjuuuuutttt.....
    *keinginan pembaca setia seperti aku, haha*

    BalasHapus
  2. Asyiiikkkk...dah ada kelanjutannyaaaa...
    Mba Nephen ma Sinyo aku buatin kopi & pisang goreng kipas yaaaa...biar tetap semangat nulis lanjutannya...hehehe...

    Imel

    BalasHapus
  3. aaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrghhhhhhhhhhhhh.....kenapa bersambung lagiiiiiiiiii???????????#jengkel, sedih, marah... be mau ibu dokterrrrrrrrr.....inyooo......mbak nepen....mau di buat berapa episode siiii??????????? <--- be yang lagi demo

    BalasHapus
  4. @kriscop....setia juga kan menunggu kelanjutannya..???

    @Imel....makasih ya kopi dan pisang gorengnya. Aku pis-gornya, Inyo kebagian kopi aja...

    @Be Nice....hihii...demo masak yah???

    (Nepen)

    BalasHapus
  5. request dibikin sampai 2 session cerpennyaaaaaa:D

    -alidin-

    BalasHapus
  6. pasangan yang keren,,,
    yang satu hebat menulis, yang satu jago membagi...

    ga sabar liat ending barunya .... ^.^

    BalasHapus
  7. Jgn terlalu diikuti keinginan penonton pak sutradara Inyo,ntar takut sangki lamanya rating keburu turun.
    Buat penulis skenario mbak Nepen, ikuti kata hati mbak,jgn penonton. Pa lagi penonton gila kek aq.
    Khekhekhekhe

    BalasHapus
  8. ~kriscooooooooooop... lanjut ke yg hot??? beres bosss...inyo jg suka, yuuuuuuuuuuuuukkk... jiahahahahha :))

    BalasHapus
  9. ~Imeeeeeeeeeeeeel... makasih ya ntuk kopo n pisang gorengnyaaaaaaaaaaa... koq tau inyo suka pisang goreng???? hehehe *tambah semangat nyiksa nepen* hihihi :))

    BalasHapus
  10. ~Beeeeeeeeeeeee....astagaaaaaaaaaaaa...ckckck... diskripsi profil tokoh bu dokter itu, yaaaa inyo ndiriiiiiiiiiiii... jiahahahhahahahaha

    BalasHapus
  11. ~Alin Lin Alin Bin Alidiiiiiiiiin... bujubunenkkkk...2 session, yg ada penulisnya turun peranakan taukkkkkk???!!!! wkwkkwkwkwkwkwkwk

    BalasHapus
  12. ~Grey Andrewwwwwwwwwww... iyaaa endingnya jadi berubah nih Greyyyyy ga sprti yg pertama kali kamu bacaaaaaa...jiahahahahha :))

    BalasHapus
  13. ~Silverrrrrrrrrrr...ihhhh gapapa rating turun Ver, nyang penting penonton puaaaaaaaaaaaaassss...jiahahahahaha :))

    BalasHapus
  14. Saya hetero tapi bisa menikmati karya anda berdua seperti laiknya membaca roman-roman hetero.Saya bisa merasakan Nepenthes seorang perempuan yang introvert, peka, melankolis perfeksionis. Berbanding terbalik dengan Sinyo. Sinyo berkesan ekstrovert, friendly dan humanis. Kombinasi yang cukup sempurna untuk meletupkan karya-karya yang lebih bernas dan kritis. Lama saya memperhatikan aktifitas di blog ini, meski jarang update namun setiap kemunculan artikel baru saya selalu ikut larut dalam kemarahan, rasa frustasi, kegembiraan, cinta dan persahabatan dari anda berdua.
    Dari saya yang selalu menantikan buah pena Nepenthes, Sinyo dan kawan-kawan.
    Samudera

    BalasHapus
  15. Nepen, lanjuut dooong... jangan kaya sinetron putus pas lagi seru2nya...

    INYO!! kok diriku diapus dari list tetangga inyo sih? -_-' apa salah dan dosaku?

    BalasHapus
  16. ~Samudera, terima kasih komentarnya yg laksana lautan teduh, tenang, dalam dan menyejukkan. Terima kasih sudah mengapresiasi corat-coret saya yg belum layak disebut karya, di ladang terpencil ini. Kecewa dan marah kerap mengganggu saya, namun kemudian menjadi sarapan pagi yg mengenyangkan sebab corat-coret saya belum mampu mengetuk pintu tim redaksi hetero, sehingga saya pulang ke ladang ini menjadi kanvas buat corat-coret saya. Ternyata corat-coret saya belum mampu menembus dinding2 pakem sastra yg penuh dgn intimidasi EYD, penggunaan atribut linguistik dan atau asesori selera tim redaksinya. Sehingga, corat-coret saya dan ataupun corat-coret rekan lainnya akhirnya terdampar di gang-gang sempit, kolong-kolong jembatan atau di ladang terpencil ini, sebab belum cukup layak untuk tersaji di meja hidangan para bangsawan sastra. Nepenthes

    BalasHapus
  17. ~bybyyyyyyyyyyyyyyq... aduhhh jgn salahkan nepen, yang menggal2 itu sinyooooooooooooo....jiahahahhahahaha :))
    aduhhh mangap bybyq bukan sengaja dihapus dr list tetangga, beberapa waktu lalu, inyo pengen ngerubah template blog ini e...tau2nya malah tambah ancur dan beberapa link tetangga ikutan raib. udah tuh inyo balikin. untung aja bybyq masih ingat mampir.... makasih yaaa bybyqqqqqqqqqqqqqq... *cipok*

    BalasHapus
  18. k nepeeeeeeeeeeeen...jewer k nyonyooooo dong!!!! Hiiiiiiii gemes neth ma crbung k nepen. Kereeeeeeeeeeeeeennnn k....

    BalasHapus
  19. @bybyq, ih...kalo langsung tahu endingnya, pasti baca endingnya aja kannnnn? Pada males baca jeroan-nya alias tengah-tengahnya...??? Makanya dibuat bersambung, biar baca ampe ke titik-titik komanya, kekekeke...

    @Arnetha, duh jewer Kak Inyo mah gak mempan lagi saking udah keseringan dijewer. Dicium rame-rame aja yukkkkk!!!! Neth...jangan lupa baca sambungannya yah.....!!

    (Nepen)

    BalasHapus
  20. inyooooooooooo... awas yak, iseng banget deh, dimutilasi mulu ceritanya,, hiks,, dah serius bacanya, eh lanjut lagi,, daku kuciwaaaaaaaa... :(

    Nepen, jewer inyo tuh,, hehehhe

    BalasHapus
  21. Yha...Inyo itu emang "tukang jagal" cerita...liat aja pedangnya dibawa ke mana-mana....hihihi

    (Nepen)

    BalasHapus
  22. aaah... kok nepen gitu sih... kubaca dari awal sampe akhir pastinya... ini buktinya diriku mampir kembali setelah tahu ada update an... ya kan ya kan ya kan?

    BalasHapus

hati hati keinjek pupuk kandang, ya...