Jumat, 05 Juni 2009

PLS : Pre Lesbistrual Syndrome




PLS "Pre Lesbistrual Syndrome". Ini mah hasil ngasal dan pelesetan dari PMS (Pre Menstrual Syndrome).

Kalau PMS, kita udah pada tau syndrome ini biasa dan rutin menghampiri dua atau tiga hari sebelum menstruasi. Tanda-tanda PMS : uring-uringan, marah nggak jelas, sensi yang berlebihan, dan libido pun meningkat. Syndrome ini akan menghilang setelah menstruasi berakhir.

Bagaimana dengan Pre Lesbistrual Syndrome? PLS, tidak terjadwal, tidak terdektesi dan tidak ada tanda-tanda laiknya PMS. PLS lebih cenderung terjadinya karena kondisi yang terdesak dan menuntut. Karena berulang-ulang menjadikannya Syndrome. Ingat! PLS menjangkiti para Lesbian. Tanpa pandang bulu.

Dari hasil pengamatan selama aku menjadi Lesbian dan tentunya berdiskusi ngalor ngibul sambil ngembul dengan beberapa sahabat Lesbian yang memiliki imajinasi liar, aku memiliki beberapa contoh Lesbian yang mengalami Pre Lesbistrual Syndrome.

Lesbian Lajang yang syndrome berkumpul dengan keluarganya. Perasaan was-was dengan pertanyaan yang kerap dilontarkan baik sengaja maupun tidak dari keluarga, "kapan menikah?"
Widi, salah satu sahabat Lesbian-ku pernah berkeluh kesah,

"heran aku, emang nggak ada pertanyaan lainkah selain nanyain kapan aku menikah? Dan hebatnya lagi kenapa juga setiap bulan ada acara keluarga? Entah kawinan, syukuran, sunatan, arisan dll.Nggak hadir nggak enak, datang bikin palaku pindah ke buku-buku jari, mo ngegampar, maksudku !"

Kita sama-sama tau, hubungan Lesbian itu Immortal, tidak abadi. Lihat saja hasil poling di Sepoci, sedikit sekali pasangan Lesbian bisa mencapai hubungan lebih dari sembilan tahun. Karena sugesti bahwa hubungan Lesbian tidak bisa kemana-mana, banyak pasangan Lesbian berandai-andai bagaimana hubungan mereka akan putus nantinya. Apakah karena ada orang ketiga? Hubungan mulai jenuh dan membosankan? Bagi pasangan Lesbian yang sama-sama single, salah satu dari pasangan (kedua-duanya), mulai digerogoti Pre Lesbistrual Syndrome yakni, menanti kapan tiba saatnya, patnernya akan menikah.

Bagi Lesbian in the closet. Pre Lesbistrual Syndrome muncul kapan saja. Perasaan ketar ketir untuk membeli film atau buku-buku bertema Lesbian. Selalu mawas diri bila ada topik-topik berbau Lesbian. Menjaga gerak tubuh agar tidak terlalu tampak memuja perempuan. Apalagi yang telah memiliki partner. Lebih runyam. Semua-semua serba diatur seteliti mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan baik dengan rekan kerja, sahabat dan keluarga.

Karena kita berada di dunia maya (siapa bilang ini dunia Mulan? Lo aja, kalee!), kita bisa menjadi siapa saja. Menjadi Lesbian jaim, Lesbian jadi-jadian, Lesbian sakit jiwa. Pasti, kita pernah mendapat salam perkenalan dan dilanjutkan saling bertukar identitas. Nah, PLS-nya tampak dalam bentuk kehati-hatian. Siapakah dia? Aman nggak kalau bertemu muka? Perlu nggak membuka diri selebar-lebarnya? Benar nggak dia Lesbian? Atau jangan-jangan ???

Bagi L-single, PLS tidak terlalu parah. Yang kudu bersiap-siap mengalami PLS akut adalah bagi L-mom atau L-mer. Deg-deg-an ketika berjumpa partner, maksudku, deg-deg-an khawatir kepergok suami atau keluarga. Mengatur jadwal kelurga dengan seksama kapan bisa berkencan. Cari tempat rendezvous, kalau perlu tidak berdinding. Ternyata, dinding sekarang bertelinga dan bermulut.

Pre Lesbistrual Syndrome, juga menyerang blogger-blogger Lesbian yang lama tidak membuat tulisan-tulisan baru. Apalagi blogger tersebut sudah memiliki pembaca atau penggemar yang banyak dan setia. Untuk penulis-penulis Lesbian yang berkontribusi dalam satu blog, juga demikian adanya. "Wah! Minggu depan jadwal gue menulis, yak? Duh! Lo, ada ide nggak ?"
Ya, kaya tulisanku kali ini. Penting nggak penting, nyambung nggak nyambung, benar apa tidaknya, pokoke posting.... hehehehe!

Terus, ada nggak saran agar terhindar dari Pre Lesbistrual Syndrome?
Jawabannya hanya ada dua.

Satu. Meneketehe! Lah, wong aku aja jadi lesbian hampir setengah abad!

Kedua. Berhenti aja jadi Lesbian! Gitu aja koq repot!

10 komentar:

  1. Prinsip gue, Nyo...
    "Silahkan berasumsi. Gue ga peduli selama itu ga keluar dari mulut gue sendiri." :mrgreen: Jadi (sok) cuek aja kali yeeee

    BalasHapus
  2. berenti jadi lesbian? meneteheennnn... dah kadung doyan banget ama yang punya kacaaaanggg...

    BalasHapus
  3. beJoooooooo! pada prisipnya, gue setubuhh ame elo... :*

    Jupeeeeeeeee! aha! gue tau maksud elo! kacang forever, lah! hahahaha :D

    BalasHapus
  4. Ke-nya aku kenal deh ma L lajang yang sering ngomong gitu, siapa ya...? *pura-pura mikir*

    BalasHapus
  5. Rogueeeeee ! kek-nya aku tau sapa L-lanjang yang dimaksud. Banci Kaleng Forever ! hehehehehe :))

    BalasHapus
  6. keknya aku tahu deh ma L centil yang suka pura-pura mikir n L mom yg punya gelar banci gambrenk forever. *wink*

    BalasHapus
  7. hah? hampir setengah abad jadi lesbi?? hehe

    BalasHapus
  8. @Jia thaeeeee ! keknya aku tau tuh banci gambrenk, huhahahaha ! :D

    @Diannnnnnnnnn ! Keknya aku baru nyadar ada yg sdh stengah abad, ya??? *sambul ngitungi uban.... :))

    BalasHapus
  9. hooo..ini tooohh..hehe..ya, ya...setuju, setuju...*sigh*

    BalasHapus
  10. ~Mithmithhhaaaaa! baru kali ini ada yg setuju ama artikelku... jiaaaaaaahhh :))

    BalasHapus

hati hati keinjek pupuk kandang, ya...