Hari itu kira-kira seminggu yang lalu, aku bersama para ponakan asyik mencari dan memilih hewan kurban. Masuklah sms dari banci kepruk yang meminta pertolonganku untuk mendatangi seorang cece yang kebetulan lagi bertugas di kotaku. Cece dengan nama Ratri (alamakjonkkkk kesannya tuh cece emang femme banget deh! apa maksudnya coba???) ini sedang kesusahan. Tas beserta isi-isinya di jambret ketika sedang berbelanja di pasar kebon sayur. Nah, si banci kepruk meminta aku untuk melihat keadaan Ratri dan juga kelanjutan laporan kehilangan tasnya. Hanya sajaaaaaa..dan anehnya banci kepruk malah mempersilahkan aku langsung masuk ke kamar hotel, bukan ketemu di Lobby!!! Alasannya klise banget, "tuh Ratri lagi shock berat! Bingung! Kek orang begok!"
Setelah aku menurunkan ponakan-ponakan di rumah, aku langsung cabut ke hotel dimana Ratri menginap. Sepanjang perjalanan, perasaanku koq jadi nggak enak. Sempat ta kirim sms ke banci kepruk tentang perasaanku. Lalu banci kepruk membalas, "bos sudah ketemu Ratri? Bagaimana keadaannya???" Yaileeee...neh banci ketauan banget dah belang kambing bandotnya.
Sesampai di hotel, perasaan tak enakku terbukti. Di lobby ada penyambutan untuk peserta seminar pejabat-pejabat tinggi negara. Sempat pula aku diminta mbak-mbak yang nangkring di meja penyambutan meminta aku untuk mendaftarkan diri. Emang tampang gue pejabat getooo, yak???? Ukh!!! Langsung aku menuju meja dekat resepsionis yang tersedia telpone untuk ke kamar. Benar Saja! Dasar Banci! Suara yang menjawab di seberang sana, meskipun dihalusi-halusin secara lembut merayu debu teteup aja suara cempreng itu aku kenal banget sebagai suara banci kepruk alias Ratri alias kak Affy!!!
Nggak usah dibayangin dan direka-reka bagaimana pertemuan para banci ini. Masak, banci ijo mau dikerjaian ama sesama banci???!!! Nggak lah yawww!!! Emang gue mo jadi antasari jilid II yang diumpanin Rani, getoooo???!!! Hihihihi...
Ngalor ngidul ngibul ngebul di kamar hotel banci kepruk berlangsung hangat dan seru. Sayang saja diantara dua banci ini nggak ada feminim-feminimnya, coba aja seandainya salah satu ada yang pasrah...lumayan tuh ranjang ukuran king jadi saksi gelap dan bisu...hahahahahaha
Malam pertama ini kami tutup dengan makan bersama di tempat orang-orang kebanyakan, foodcourt. Karena kotaku lagi nggak sopan, hujan deras menyambut kedatangan pejabat negara.
Ke-esokkan harinya sekitar jam 12-an, aku mengunjungi mba Ratri dan mengajaknya makan soto khas daerahku. Banci kepruk ini seakan-akan nggak puas-puasnya jadi banci. Kotaku yang lagi hangat-hangatnya kesiram matahari, malah beliau memakai jaket tebal untuk menutupi segala pangkat dan gelar di pakaian dinasnya. jiaaaaaaaaaaaaaa...
Pun, setelah makan soto yang panas dan pedas tak membuat mba Ratri kegerahan. Ajiiiiiiiiiiiiiiiiiip...
Berbekal perintah atasan mba Ratri untuk membelikan bininya dua buah liontin kristal, kami menuju ke sebuah pasar yang terkenal dengan segala koleksi batu-batuanya. Tuh atasan lupa kali ya, masak dua banci disuruh beli perhiasan??? Untuk bini ndiri aja kaga pernah nyari, ini malah nyariin untuk bini orang. Napa, nggak sekalian aja bininya jadi bini kite, yak??? Hihihi... Bingung! Cari sana cari sini. Nggak tau mana kristal asli mana kristal kaca. Untung saja, saat kami lagi pusing milih liontin, di sebelah kami ada dua waria bertubuh segede gentong. Dari mereka kami akhirnya jadi tau kristal asli. Setelah dua waria itu berlalu, sempat aku bisikkan ke mba Ratri, "keknya mereka salah bodi, mestinya kita tukaran ya bos???" huahahahaha...
Sesuai janji di siang hari untuk dinner ala candlelight, aku bawa mba Ratri-ratrian ini makan udang bakar dan cah ginseng (pake telor puyuh) di sebuah warung remang-remang. Gue nggak jamin setelah makan udang dan ginseng tuh banci kepruk jadi nafsonkkk...kqkqkqkqkq. Nggak ada jendela, atappun bakal dijeboooool !!!Malam terakhir nan syahdu ini kami tutup dengan saling curhat colongan di sebuah kafe di tebir pantai. Angin semilir dengan kerlip lampu kapal di kejauhan menambah suasana makin mencekam...eh...mengasyikkan sampai lupa kudu pulang.
Hari terakhir pejabat tinggi negara kudu kembali ke metropolitan, kami isi dengan bincang-bincang ringan sebagian bincang lanjutan biography banci kepruk yang rencananya akan dijadikan novel (ayooo, sapa yang mau jadi penulisnya? daftar di sinyo, yak? pokoke sejarah banci kepruk dijamin bikin gempar pembaca hetero).
Aku mengawal banci kepruk sampe ke bandara kalo perlu sampe beliau naek pesawat, bukan apa-apa seh, masalahnya karena banci biasanya gengsi bawa tas kresek isi oleh-oleh, emang sengaja ta pake tas kresek bukan dipacking kardus (***). Takutnya tuh tas kresek belum sampe ke bininya udah disumbangin ke pramugari...wkwkwkwkwk
Secara baru kali ini aku dibezuk sista sehati dari lain pulau. Enggan rasanya untuk berpisah. Namun, apa hendak dikata. Kami punya jalan hidup masing-masing yang kudu diprioritaskan. Setelah banci kepruk take off, betapa damainya dan kehidupanku kembali normal seperti sedia kala. Jiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!
(***) : naga-naganya bakal ada yang ambil ide tas kresek untuk dijadikan tulisan. Cape dehhhhh...!!! Huahahahaha :))



















